<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>superwid</title>
	<atom:link href="http://blog.superwid.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.superwid.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Mar 2012 10:10:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nasib</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2012/03/nasib/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2012/03/nasib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2012 10:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Stok coklat Monggo saya habis. Kalau berdasar teori Nurlela yang menyatakan bahwa jika marshmellow-nya sudah menipis saatnya pulang ke ibukota, berarti jika coklat saya ludes &#8211; saya mesti pulang ke kampung. Padahal coklat yang cuma selembar seukuran iphone itu sudah saya irit-irit semenjak dua bulan lalu. Dua bulan? Wah sudah lama juga saya tidak melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stok coklat <a href="http://chocolatemonggo.com/id">Monggo</a> saya habis. Kalau berdasar teori Nurlela yang menyatakan bahwa jika <em>marshmellow</em>-nya sudah menipis saatnya pulang ke ibukota, berarti jika coklat saya ludes &#8211; saya mesti pulang ke kampung. Padahal coklat yang cuma selembar seukuran iphone itu sudah saya irit-irit semenjak dua bulan lalu. Dua bulan? Wah sudah lama juga saya tidak melihat mall dan peradaban.</p>
<p>Namanya juga tuntutan pekerjaan buruh yang baru diterima. Sudah cuti belum punya, juga tidak bisa seenaknya minta tugas ke luar kota. Kadang iri juga sama Joko Buras yang jarang lembur tapi dinas makmur. Terus Dadan Galau yang meteran kunjungan luar kotanya lancar sentosa. Belum Koh Lono yang rutin dapat panggilan. Apalagi Nurlela yang bisa sekali anjangsana bisa sampai dua minggu. Saya kan juga pengen merasakan keluar dari hutan dengan nyaman dan tenteram. Pulang ke pulau seberang.</p>
<p><span id="more-372"></span>Kenapa ya saya kok bisa nyasar di sini?</p>
<p>Di tengah kegalauan yang melanda, kok saya ingat akan Paijo dan pulsa telepon yang masih lumayan. Sepertinya dia masih bekerja di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banda_Aceh">ujung Endonesa</a>. Ah, iseng-iseng saya telepon Paijo daripada saya gundah gulana. Lagipula sudah hampir dua tahun kami tidak bersua.</p>
<p>Tuut.. Tuut.. Tuut..</p>
<p>&#8220;Halo, ada apa ya. Tumben-tumbenan. Mau kirim undangan?&#8221; tanya Paijo dari ujung sana.<br />
&#8220;Sompret, dari mana-mana urutannya juga yang paling tua,&#8221; kata saya.</p>
<p>Paijo cengengesan di ujung sana. Saya dan Paijo mulai bercerita. Mulai dari <a href="http://superwid.wordpress.com/2010/08/02/geng-gabil/">Geng Gabil</a> dan turunannya sampai kisah gadis berjaket oranye yang jadi idola. Dari gadis Persia yang tertinggal di ujung Endonesa hingga <a href="http://blog.superwid.com/2010/08/balada-1-wanita-dan-3-asmara/">cerita cinta remaja</a> yang melegenda. Ya memang sudah lama dan banyak yang bisa digosipkan buat kemaslahatan umat.</p>
<p>&#8220;Gimana Jo, enak di sana,&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Ya lumayan lah. Dibawa enak, kalau dibawa stres bisa jadi gila. Eh kapan terakhir pulang ke kampung?&#8221; Paijo balik tanya.<br />
&#8220;Akhir taun kemaren Jo. Pas ada acara di Jogja. Sekalian jadi irit ongkos. Kamu sendiri gimana?&#8221; saya balik tanya lagi.<br />
&#8220;Bulan kemaren. Sama, sekalian ada acara. Kalau pakai uang sendiri sayang. Bisa habis 3000 bungkus nasi kucing,&#8221; jelas Paijo.</p>
<p>Waow, sekali mudik bisa beli <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nasi_kucing">nasi kucing</a> 3000 bungkus (kurs tahun 2010) sementara saya kalau mau mudik cuma butuh setengahnya. Memang di sana dekat bandara, mau pulang tinggal ngesot. Tapi transitnya itu <em>bo</em>.. Dua kali kata Paijo dan paling cepat lima jam naik pesawat. Ya beda dikit sama dari pabrik saya ke kampung, tujuh jam darat dan dua jam pesawat. Sama-sama capeknya.</p>
<p>&#8220;Kerjaan ngapain aja Jo?&#8221; saya menyelidik.<br />
&#8220;Ya gini-gini aja, pemeriksaan, bikin laporan. Standar saja. Kalau mau berinovasi juga bisa. Tapi belum lah, mikir laporan yang setahun tiga kali saja sudah bikin pusing setengah mati,&#8221; kata Paijo.</p>
<p>Saya dulu sempat pengen bekerja di pabrik tempat Paijo bekerja sekarang. Saya ingat dulu menemani Paijo mengirim berkas lamarannya di pabrik cabang kampung saya. Waktu itu saya belum lulus. Saya sempat daftar tahun berikutnya, cuma tidak diterima.</p>
<p>&#8220;Kamu sendiri gimana? Masih sibuk ngetik?&#8221; tanya Paijo.<br />
&#8220;Endak lah Jo. Di sini lebih ke masalah support aja. Jadi tenaga bantu-bantu benerin mesin. Urusan ngetik biasanya di-tender kantor ibukota. Duduk manis ngawasin mesin jalan aja sambil sesekali ngecek,&#8221; saya menjelaskan.</p>
<p>Untungnya di pabrik tempat saya bekerja masih ada sangkut pautnya sama mesin sementara Paijo berurusan sama kertas-kertas laporan.</p>
<p>&#8220;Di sana makan gimana Jo? Dapet rumah tidak?&#8221; saya bertanya, membandingkan.<br />
&#8220;Mahal, lebih mahal daripada ibukota. Standarnya tinggi. Rumah tiada dapat, jadinya di sini ngekost. Ndak mahal-mahal banget lah, tapi ndak ada dapurnya jadi ndak bisa masak. ndak bisa ngirit,&#8221; terang Paijo.</p>
<p>Untuk ukuran makan, sama antara tempat Paijo dengan daerah pabrik saya. Tapi dari segi fasilitas dan akomodasinya jauh beda. <em>Alhamdulillah yah, sesuatu..</em> Eh maksudnya Alhamdulillah di pabrik saya hampir semua ditanggung. Mulai dari rumah, listrik yang hobi mati, air distilasi dari sungai yang terkontaminasi pipis buaya, keringat biawak dan kobokan orang utan. Belum lagi jatah preman yang datangnya suka tiba-tiba kalau lagi ada pembagian : snack, makan, panci, pakaian pantas pakai dan sebangsanya. Ah, ternyata betapa enaknya kerja di pabrik saya.</p>
<p>&#8220;Yo wis, sini aja Jo. Lagi ada lowongan besar-besaran di pabrik tempat saya kerja,&#8221; saya ajak Paijo.<br />
&#8220;Saya sih pengen kerja di pabrik kamu. Uang jajannya gede, fasilitas oke. Tapi apa daya ijazah saya masih ditahan empat tahun ke depan. Diterima dan disyukuri saja, rejeki dan nasibnya orang kan beda-beda,&#8221; Paijo berceramah.</p>
<p>Adzan magrib berkumandang, dan saya sebagai orang tampan dan beriman mesti segera menunaikan ibadah untuk daerah pabrik saya dan sekitarnya. Terpaksa sambungan telepon interlokal itu saya matikan.</p>
<p>Benar juga kata Paijo, rejeki dan nasib orang beda-beda. Kalau liat Joko Buras, Dadan Galau, Koh Lono dan Nurlela pasti saya tidak bakal ada rasa puas dan bersyukurnya.</p>
<p>Mesti sering-sering ngobrol sama teman-teman sepermainan waktu Geng Gabrut dan Geng Gabil berjaya agar dapat pencerahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2012/03/nasib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gubuk Bakery</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2012/03/gubuk-bakery/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2012/03/gubuk-bakery/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 19:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Coba dulu saya tidak bertemu dengan spesies-spesies unik, langka nan menyesatkan macam Joko, Sukiman dan Mardi, pasti saya bisa berkontribusi mengharumkan nama sekolah di dunia persilatan tanah air melalui karya-karya saya yang fenomenal. Ya meskipun tidak sejago Jupri dalam mempraktekkan jurus-jurus, saya yakin bisa meningkatkan harkat dan martabat sekolah. Eh, memangnya saya sekolah silat? Ceritanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba dulu saya tidak bertemu dengan spesies-spesies unik, langka nan menyesatkan macam Joko, Sukiman dan Mardi, pasti saya bisa berkontribusi mengharumkan nama sekolah di dunia persilatan tanah air melalui karya-karya saya yang fenomenal. Ya meskipun tidak sejago Jupri dalam mempraktekkan jurus-jurus, saya yakin bisa meningkatkan harkat dan martabat sekolah.</p>
<p>Eh, memangnya saya sekolah silat? Ceritanya bakalan panjang dan membosankan. Kalau ndak niat mending jangan baca.</p>
<p><span id="more-334"></span>Akhir-akhir ini saya sering membaca berita mengenai keberhasilan almamater sekolah saya menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Bangga pastinya, kan jadi bisa nyombong sama sekolah sebelah. Ya meskipun penghargaan dan keberhasilan itu datang selepas saya menamatkan pendidikan di sana. Minimal saya pernah berkontribusi membuat grafiti kata motivasi di bangku sekolah pakai tip ex (bandingkan dengan Joko yang membuat tindakan vandalisme di WC putri untuk melampiaskan kisah cinta tak sampai-nya)</p>
<p>Bagaimana saya mau berkarya, tiap berusaha menempuh jalan lurus nan terjal, selalu saja ada gangguan. Mulai dari Paijo dan Mat Kodir yang memaksa main sepakbola saat jam sekolah. Joko dan Ucup yang heboh main PES pas waktunya belajar kelompok. Dibyo dan Kojrat yang rebutan pamer bokep terbarunya. Ataupun Sukiman dan Mardi yang mengajak jalan-jalan meskipun tugas bertebaran.</p>
<p>Saya tak kuasa menolak ajakan dan rayuan penuh muslihat tersebut. Tiada daya dan upaya.</p>
<p>Tapi jelek-jelek gini toh saya dan teman sepermainan ini pernah berbuat kebajikan di muka bumi, setidaknya menurut kami.</p>
<p>Dulu, saya pernah digadang-gadang menjadi calon ketua Gubuk Bakery di sekolah. Dengan melihat riwayat hidup saya yang jauh dari dunia perkumpulan dan per-geng-an, saya kepalang senang bukan main mendapat kepercayaan dan tanggung jawab seperti itu. Meskipun statusnya masih calon dan itu juga baru digadang-gadang, rasanya sudah bagaikan melayang ke awan.</p>
<p>Oh ya, Gubuk Bakery ini merupakan kumpulan tukang-tukang pembuat <em>kue</em> yang handal di sekolah. Kata Joko, wasiat dari pendirinya yakni buat belajar bikin <em>kue</em> bagi semua siswa dan mengharumkan nama sekolah di Endonesa yang pada masa itu tertutup prestasi sekolah sebelah. Ruangan dan fasilitas yang diberikan tergolong mewah pada jamannya. Ruang seluas 8 x 6 meter dengan AC yang dingin dan tentu saja belasan oven mahal. Belum lagi dispenser dan minuman sachet yang selalu ada stoknya. Tidak semuanya juga merupakan fasilitas sekolah, toh Gubuk Bakery juga mengelola keuangan dengan menjalankan pelatihan bikin <em>kue</em> dengan biaya yang terjangkau dan menerima pesanan <em>kue </em>dari luar sekolah. Hasilnya? Lumayan buat jajan kue dan nraktir gadis sekolah sebelah.</p>
<p>Saya mulai digembleng oleh Nyoto, yang mencalonkan saya, mengenai tips dan trik menjadi ketua yang baik dan benar. Diperkenalkan kepada relasi-relasinya. Mendapatkan doktrin dan motivasi setiap hari. Bisa dibilang Nyoto ini jago bin lihai untuk urusan spik-spik, selevel dengan Joko. Bedanya Nyoto bicara bisnis, Joko bicara lamis. Tapi dua-duanya sama-sama kurang mahir kalau disuruh bikin resep atau masak <em>kue</em>. Siapa saja bisa terhanyut akan pembawaan Nyoto saat jumpa pertama. Namun setelah semakin kenal, pesonanya mulai memudar. Nyoto merupakan generasi pertama pengurus Gubuk Bakery, sama dengan Joko..</p>
<p>Anehnya, Yono, generasi kedua  yang sekarang memegang tampuk kepemimpinan justru adem ayem saja. Selalu bergelut di balik oven. Memang dia juru masak dan pembuat resep <em>kue</em> yang handal. Yono sedang sibuk mengerjakan <em>kue</em> apa dan pesanan siapa, saya juga tidak tau dan tidak mau tau. Seperti robot. Tapi saya yakin dia sedang mengerjakan sesuatu yang serìus pada oven itu. Barangkali mengerjakan pesanan <em>kue</em> yang deadline-nya sudah dekat. Mukanya tegang, tapi tidak mesum macam Dibyo. Tidak pernah sekalipun saya dan Yono berbicara mengenai kelangsungan Gubuk Bakery. Kok bisa ya Yono yang pendiam jadi ketua, pikir saya.</p>
<p>Nyoto mengingatkan bahwa Gubuk Bakery adalah tempat yang eksklusif. Tidak boleh sembarang orang masuk ke Gubuk Bakery. Pintunya selalu tertutup rapat. Di samping karena ada AC, juga banyak barang yang berharga. Ada oven-oven mahal. Jarang ada siswa non pengurus masuk ke ruangannya. Bisa dibilang hanya <em>nol-koma-enam-delapan</em> prosen saja siswa yang tau apa kegiatan di dalam sana. Kok Gubuk Bakery yang seharusnya terbuka malah jadi tertutup dan sulit diakses, pikir saya lagi.</p>
<p>Saat itu memang Sukiman mengingatkan mengenai tingkah laku Nyoto yang agak aneh. Bagaimana tidak aneh kalau Nyoto jelas-jelas tampak bergaul ramah dengan saya sementara menunjukkan sikap permusuhan terhadap Sukiman dan gengnya yang notabene teman akrab saya. Belum lagi Joko dan Bejo yang merupakan senior saya juga mengingatkan untuk berhati-hati dengan Nyoto.</p>
<p>&#8220;Kemarin ada <em>kue</em> yang selesai saya kerjakan, masak gaji saya ndak dibayar. Dipakai beli mendoan buat makan-makan,&#8221; kata Bejo yang militan dan tidak terima hasil jerih payahnya disumbangkan sukarela tanpa pemberitahuan.</p>
<p>Saya bingung menghadapi situasi ini. <em>Kue</em> itu apa? Kok ada gaji-gajian padahal belum kerja. Ah, penuh konspirasi. Macam politik saja. Saya tidak suka.</p>
<p>Awalnya saya tidak peduli. Masih saja bergaul dengan Nyoto yang kurang disukai oleh teman-teman sementara pihak sekolah justru menyukai kehadiran Nyoto.</p>
<p>&#8220;Pasti ada sesuatu, ada udang di balik batu. Tapi siapa udangnya, siapa batunya. Itu yang harus dicari tau,&#8221; pikir saya.</p>
<p>Akhirnya saat yang dinanti-nanti tiba, tampuk pimpinan Gubuk Bakery resmi dialihkan. Yono lengser dengan damai. Mungkin karena melihat kemampuan saya yang di bawah rata-rata dan tidak tambah pintar meskipun diajar jadilah Nyoto menunjuk Mardi, Jupri, Romlah, Ipung dan saya menjadi konsorsium pimpinan Gubuk Bakery. Setelah sekian lama, saya punya jabatan juga. Lumayan buat lampiran di riwayat hidup buat cari kerja.</p>
<p>&#8220;Wow, banyak betul duitnya. Dari mana ini ya?&#8221; saya kaget melihat pembukuan Gubuk Bakery. Untuk ukuran kegiatan ekstrakurikuler, anggaran Gubuk Bakery cukup besar. Itupun didapat secara swadaya.</p>
<p>Kami mulai menyusun program kerja, tentunya dengan mempertimbangkan saran dan masukan dari Nyoto, Bejo, Joko selaku senior dan Sukiman yang waktu itu jadi ketua geng sebelah. Yono? Hilang tanpa jejak.</p>
<p>Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Program terlaksana sesuai rencana. Memang belum bisa dikatakan bagus, tetapi sudah mulai ada kerangkanya. Dibanding dengan masa-masa Yono jauh perbedaannya. Kalau dulu Gubuk Bakery menjadi tempat yang seram nan eksklusif, kini menjadi tempat nongkrong yang nyaman.</p>
<p>Ruangan ber- AC, belasan oven mahal. Jaman segitu sudah termasuk dalam kategori mewah di sekolah. Dan itu dibebaskan untuk semua siswa. Tidak ada batasan selama masih dalam koridor aturan yang berlaku.</p>
<p>Melanggar prinsip eksklusif yang dianut Nyoto.</p>
<p>Tapi saya juga santai-santai saja, toh Gubuk Bakery ini milik bersama. Siapa saja boleh masuk dan memanfaatkan selama tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi. Gubuk Bakery yang tadinya berkesan angker dan seram kini jadi terbuka untuk semua golongan.</p>
<p>Tapi anggaran yang dikeluarkan tak sebanding dengan pemasukan. Padahal pelatihan jalan seperti sebelumnya, tapi kok tetap saja uang tabungan berkurang. Sepertinya ada pendapatan lain yang didapat Gubuk Bakery selama ini, cuma pembukuannya kurang transparan. Mungkin pesanan <em>kue</em> yang semakin berkurang semenjak Nyoto mulai kurang eksis di Gubuk Bakery. Tapi kami tidak menyangka perolehan dari <em>kue</em> sedemikian besarnya. Dilema. Di satu sisi dengan adanya pesanan <em>kue</em>, pelatihan terabaikan sementara sekarang semenjak pelatihan digiatkan, pesanan <em>kue</em> jadi berkurang.</p>
<p>Memang tidak bisa disangkal kalau keberadaan Nyoto sangat vital di Gubuk Bakery.</p>
<p>Dan entah dari mana, tiba-tiba Nyoto yang seharusnya sudah pensiun mengurus Gubuk Bakery muncul bersama dengan beberapa orang yang dibawanya entah dari mana.</p>
<p>&#8220;Loh loh, ada apa ini?&#8221; Ipung bertanya. Romlah bingung.<br />
&#8220;Ini kan fasilitas umum, boleh dong teman-teman saya memakainya?&#8221; balas Nyoto.<br />
&#8220;Eh, tapi.. Ya sudah, silakan asal sesuai aturan,&#8221; jawab Ipung dan Romlah pasrah.</p>
<p>Saat itu cuma ada Ipung dan Romlah di Gubuk Bakery sementara saya, Jupri, Mardi dan Sukiman tengah main bola.</p>
<p>&#8220;Mardi, tadi ada Nyoto ke sini. Menggunakan oven di sini,&#8221; kata Romlah.<br />
&#8220;Ya sudah tidak apa-apa,&#8221; kata Mardi.<br />
&#8220;Tapi dia bawa teman dan menggunakan ruang pojok,&#8221; kata Ipung.</p>
<p>Ruang pojok merupakan tempat terlarang untuk umum karena di sana terdapat oven paling mahal dan berharga milik Gubuk Bakery. Yang bukan pengurus Gubuk Bakery untuk masuk makruh hukumnya, mereka hanya boleh menggunakan ruang pelatihan.</p>
<p>&#8220;Apa yang mereka lakukan di sana?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Tidak tau, kami tidak berani menanyakan,&#8221; kata Romlah dan Ipung kompak.</p>
<p>Ada yang salah ini. Esoknya kami berlima <em>stand by</em> di Gubuk Bakery. Barangkali Nyoto dan komplotannya datang lagi.</p>
<p>Tidak berapa lama, Nyoto datang beserta teman-temannya dan akan menggunakan fasilitas yang sama.</p>
<p>&#8220;Mas Nyoto, kalau mau menggunakan oven bisa pakai oven di ruang pelatihan,&#8221; kata Mardi.<br />
&#8220;Loh, saya kan senior. Pengurus sini juga. Tidak ada sejarahnya pengurus dipecat kan?&#8221; tanya Nyoto.<br />
&#8220;Kalau Mas Nyoto silakan masuk, yang lain silakan di ruang pelatihan saja,&#8221; jawab Mardi lagi.<br />
&#8220;Tidak bisa begitu dong, mereka kan teman saya. Lagipula mereka juga siswa sekolah ini,&#8221; Nyoto protes.<br />
&#8220;Sekarang aturannya begitu Mas, jadi mohon dipatuhi,&#8221; Mardi menjawab santai.<br />
&#8220;Kalian saja pernah mengajak Sukiman dan Ucup masuk ke dalam Gubuk Bakery. Kalian tidak konsisten,&#8221; Nyoto tidak terima.<br />
&#8220;Sukiman kan pengurus Gubuk Bakery sementara Ucup kalau masuk juga tidak pernai sampai masuk dan mengobok-obok ruang pojok. Mas Nyoto sendiri gimana sama teman-temannya?&#8221; tanya Mardi.<br />
&#8220;Saya ini mau menyelamatkan kalian. Tabungan yang kami sisakan mana? Tinggal recehan kan? Lalu kalian mau apa kalau tidak ada pemasukan ke tabungan?&#8221; Nyoto marah.<br />
&#8220;Kalau Mas Nyoto sudah menyerahkan kepengurusan Gubuk Bakery pada kami mestinya Mas Nyoto percaya pada kami. Berikan saran dan kritik yang membangun. Bukan dengan bertindak semaunya. Sebagai pengurus kami merasa dilangkahi. Benar memang Mas Nyoto pelopor Gubuk Bakery, itu tidak bisa dipungkiri. Pasti Mas Nyoto tidak ingin Gubuk Bakery kolaps dan bubar. Akan tetapi ini perkumpulan yang membutuhkan regenerasi, bukan negara diktator. Sesekali di atas kemudian di bawah kan wajar. Dinamika, jangan dihalangi. Toh kami juga mengemban amanat yang diberikan dengan penuh tanggung jawab,&#8221; Mardi panjang lebar menjelaskan.</p>
<p>Nyoto muntab. Bersama kelompoknya, dia keluar dari Gubuk Bakery. Kami lega cuma terjadi pertengkaran mulut tidak sampai terjadi pertumpahan darah.</p>
<p>Esoknya, Pak Guru tiba-tiba datang ke Gubuk Bakery. Suatu hal yang tidak biasa. Inspeksi mendadak sepertinya. Namanya juga menggunakan fasilitas sekolah, wajar lah ada kunjungan mendadak. Mungkin memastikan agar tak ada fasilitas yang disalahgunakan.</p>
<p>Saya dan Sukiman sedang tiduran. Untungnya Jupri sedang membuat <em>kue</em> sementara Romlah dan Ipung tengah merapikan jadwal pelatihan. Mardi main internet. Tidak begitu kelewatan malas-malasan.</p>
<p>&#8220;Sepertinya ruangan ini pas, &#8221; kata Pak Guru melongok Jupri yang sedang merangkai bait kata di ruang pojokan.<br />
&#8220;Pas untuk apa ya?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Buat tempat Nyoto dan kawan-kawannya berkarya,&#8221; jawab Pak Guru.<br />
&#8220;Memangnya kenapa Pak? Kita tidak membatasi mereka untuk berkarya di sini selama masih mengikuti aturan yang ada,&#8221; saya menjawab.<br />
&#8220;Oh, tapi menurut saya ruangan ini terlalu luas juga untuk kalian,&#8221; kata Pak Guru.</p>
<p>Saya, Mardi, Jupri, Ipung dan Romlah cuma bisa pasrah. Terserah. Fasilitas sekolah.</p>
<p>Beberapa hari berikutnya nampak beberapa tukang mengganti engsel pintu ruang pojok.</p>
<p>&#8220;Ada apa ini Pak?&#8221; tanya Romlah.<br />
&#8220;Ini mbak, engsel pintu mau diganti. Disuruh Pak Guru. Katanya buat Mas Nyoto,&#8221; jawab Pak Tukang.</p>
<p>Kami segera bereaksi. Memindahkan barang-barang dari ruang pojok, mulai dari oven yang paling mahal dan berharga, wajan, panci, kompor, talenan, panggangan dan semuanya tak terkecuali. Tidak ada yang ditinggalkan selain debu dan sidik jari. Setiap akan menutup Gubuk Bakery semua sekat di dalamnya yang masih milik Gubuk Bakery dikunci rapat. Ruang pojokan tidak kami pedulikan.</p>
<p>Hari-hari berikutnya ada dua pengurus dalam satu ruangan. Aneh, tapi mau bagaimana lagi. Ini keputusan sekolah melalui Pak Guru.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita mencoba diskusi dengan Pak Guru. Ini sudah tidak sehat. Kita tidak tau apa yang dilakukan Mas Nyoto dan teman-temannya di ruang pojok itu,&#8221; kata saya.<br />
&#8220;Bisa bisa. Biar kita minta kejelasan sekalian. Jangan sampai terjadi hal-hal yang diinginkan. Misalnya dia bikin kue beracun,&#8221; balas Sukiman ngasal.</p>
<p>Selanjutnya kami memutuskan untuk menemui Pak Guru di rumahnya. Ya biar tidak terganggu dan terprovokasi dengan kehadiran Nyoto yang nampaknya punya pengaruh besar di mata Pak Guru. Kalau dipikir, macam mahasiswa yang lagi demo mengepung gedung DPR; <em>grudak-gruduk</em>.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya visi dan misi Gubuk Bakery itu apa?&#8221; tanya Pak Guru memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Ya tentu saja mengakomodir keinginan siswa di sini untuk belajar, tanpa perlu mengetahui asal usulnya selama dia ada di sekolah kita,&#8221; saya menjawabnya.<br />
&#8220;Lalu apa salah jika Nyoto dan teman-temannya memanfaatkan fasilitas Gubuk Bakery,&#8221; tanya Pak Guru lagi.<br />
&#8220;Tidak salah Pak, cuma harus ada aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan. Kami sebagai pengurus yang diberi hak dan tanggung jawab untuk mengelola Gubuk Bakery juga tidak akan membatasi jika semua dilaksanakan sesuai prosedur yang ada,&#8221; saya menjelaskan.</p>
<p>Banyak yang dibicarakan mulai dari Gubuk Bakery sampai nilai matematika yang tidak pernah lebih dari lima.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu nanti kita duduk bersama, antara pengurus Gubuk Bakery dan Nyoto, biar saya yang menengahi,&#8221; Pak Guru memberikan solusi.</p>
<p>Sampai sini, kami masih berharap akan ada kejelasan mengenai Gubuk Bakery. Apakah akan tetap diserahkan pada kami berlima untuk pengurusannya atau kembali lagi pada Nyoto.</p>
<p>Bejo, senior saya sekaligus junior Nyoto pernah cerita bahwa Nyoto menggunakan fasilitas Gubuk Bakery sekaligus pengurusnya yang memiliki keahlian di atas rata-rata untuk mengerjakan pesanan <em>kue</em>-nya. Sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak pernah ada masalah, malahan pengurusnya senang karena bisa menambah uang jajan. Tapi Bejo sempat sakit hati lantaran gaji yang seharusnya dipakainya untuk gembira ria ternyata dimanfaatkan untuk keperluan pembelian wajan di Gubuk Bakery. Sementara Bejo kecewa, rekan-rekan seangkatannya cuma bisa tutup mata. Selama ada pesanan <em>kue</em> yang dikerjakan semua diam. Yono, sang ketua, tak ubahnya seperti boneka bagi Nyoto dalam mengontrol Gubuk Bakery.</p>
<p>&#8220;Kalian ini apa, skill ndak ada, otak biasa, oven pinjem tetangga, pacar pun tiada,&#8221; kata Bejo menghina bercanda.</p>
<p>Pada hari yang telah disepakati, pengurus Gubuk Bakery dan Nyoto berkumpul ditengahi Pak Guru. Banyak yang dibicarakan, tentang sejarah Gubuk Bakery dan ceritanya sampai bisa seperti sekarang. Buku besarnya yang selalu berada pada nilai plus. Kemudian berlanjut pada kelalaian kami dalam mengurus Gubuk Bakery yang mengakibaukan neraca Gubuk Bakery menjadi merugi dan berbagai macam cerita yang menunjukkan kegagalan kami dalam mengurus Gubuk Bakery. Sementara saya, Mardi, Jupri, Romlah dan Ipung tentu saja membela diri dengan alasan macam-macam. Jelas-jelas konsep kami berbeda dengan Nyoto. Kami ingin Gubuk Bakery terbuka dan menjadi tempat semua untuk belajar sementara Nyoto ingin mengkomersialkan Gubuk Bakery.</p>
<p>Meskipun berlima, kami pun keteteran mendebat Nyoto. Harusnya ada Joko yang membantu sebagai juru bicara di pihak kami. Tapi apa lacur, Joko kan teman seangkatan Nyoto dan sama-sama generasi pertama Gubuk Bakery. Kurang etis kalau mereka berdua dikonfrontir.</p>
<p>Sampai akhirnya,</p>
<p>&#8220;Misal ada orang membawa <em>kue</em> ke depan pintu rumah kalian dan kalian tinggal makan, masak iya masih kalian pertanyakan?&#8221; kata Nyoto.<br />
&#8220;Tergantung <em>kue</em>-nya diracun atau tidak,&#8221; jawab Mardi.</p>
<p>Memang pada akhirnya antara keinginan Nyoto dan Gubuk Bakery memang tidak bisa disatukan. Selalu saja ada yang berseberangan dan tidak mungkin dicari jalan tengah karena keduanya sama-sama memaksakan. Harga diri dan ego dipertaruhkan.</p>
<p>Keputusan akhirnya Gubuk Bakery tetap berhak menempati ruangan yang ada dan kami masih diserahi tanggung jawab untuk mengurusnya sementara Nyoto dan teman-temanya disediakan ruangan baru yang lebih sempit namun dengan fasilitas yang lebih baik untuk membuat <em>kue</em> dan dibagi-bagikan pada timnya. Kemudian karena ada kebutuhan laboratorium sekolah, ruang Gubuk Bakery digusur ke ruangan sempit di ujung belakang kemudian digusur kembali ke ruangan di samping toilet wanita.</p>
<p>Setahun mungkin perdebatan itu baru terselesaikan. Satu periode masa jabatan. Yang kami berikan untuk Gubuk Bakery mungkin tidak ada bekasnya. Semoga saja Gubuk Bakery telah kembali pada khitahnya.</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya ke sekolah, Gubuk Bakery masih setia berkumpul di ruang samping kamar mandi dengan ruangan yang lebih sempit, minus oven-oven mahal (karena siswa sekarang bisa beli oven lebih mahal) dan tanpa AC sementara Nyoto sudah tidak terlihat lagi di sekolah tercinta. Bahkan bekas-bekas ruangan mewah yang ditempatinya pun kini telah menjadi laboratorium pula. Saya merasa malu karena tidak memberikan apa-apa pada Gubuk Bakery, bahkan pada akhirnya Gubuk Bakery terpaksa pindah dari ruang mewah dengan fasilitas bintang tiga ke ruang samping kamar mandi dengan fasilitas seadanya. Untunglah Ipung mendidik junior-junior Gubuk Bakery dengan sangat baik. Pun Romlah tetap menjaga hubungan baik dengan senior Gubuk Bakery. Joko, Mardi dan Sukiman masih akrab bergaul dengan junior-junior. Sementara saya kabur jauh ke pedalaman tanpa kabar berita.</p>
<p>Setidaknya saya masih mengikuti dari jauh perkembangan Gubuk Bakery tanpa melakukan intervensi atau tindakan paksa yang membuat pengurus selanjutnya tidak leluasa dalam berkreasi dan mengembangkan Gubuk Bakery sesuai keinginan tanpa melupakan wasiat tetua.</p>
<p>Saya juga merasa bersalah telah membuyarkan jalan Nyoto untuk membangun perusahaan <em>kue</em> yang mungkin diimpikannya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Eh, atau barangkali kalau saya, Mardi. Jupri, Romlah, Ipung dan segenap tim tidak berdebat panjang dengan Nyoto dan Pak Guru  mungkin tidak pernah ada berita keberhasilan almamater sekolah saya di tingkat nasional karena almamaternya pada kekenyangan makan kue di Gubuk Bakery.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2012/03/gubuk-bakery/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontemplasi V</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2012/02/kontemplasi-v/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2012/02/kontemplasi-v/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 05:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Selamat malam sahabatku, apakah kamu masih mengenalku? Atau barangkali kamu telah melupakanku, menempatkan namaku pada buku telepon usang masa lalu yang kamu tumpuk bersama butir-butir yang kamu sebut masa kelam &#8211; sedang aku menamakannya kenangan. Iya, aku tidak akan menyalahkanmu atas semua itu. Karena aku tau kita sempat bisa berjalan beriringan namun tidak ada langkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat malam sahabatku, apakah kamu masih mengenalku? Atau barangkali kamu telah melupakanku, menempatkan namaku pada buku telepon usang masa lalu yang kamu tumpuk bersama butir-butir yang kamu sebut masa kelam &#8211; sedang aku menamakannya kenangan.</p>
<p>Iya, aku tidak akan menyalahkanmu atas semua itu. Karena aku tau kita sempat bisa berjalan beriringan namun tidak ada langkah yang bersambutan. Kita pernah saling mengisi sementara di satu saat kita menikam berkelahi. Friksi yang kita jumpai : perbedaan persepsi tentang <a href="http://superwid.wordpress.com/2009/08/17/kontemplasi/">edelweis merbabu</a> ataupun keras kepala pada senyap <a href="http://blog.superwid.com/2010/12/kontemplasi-iv/">Danau Taman Hidup</a>. Iya, kamu memang berhak melampiaskannya padaku. Tapi entah aku masih saja suka untuk bercerita padamu. Tentang <a href="http://superwid.wordpress.com/2010/03/17/kontemplasi-ii/">dua perempuan yang hadir dalam hidupku, pun tentang seorang lelaki yang habis waktunya.</a></p>
<p><span id="more-226"></span>Kini aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke kotamu. Membawa sekantong buah tangan berisi amplang, kepiting soka dan manik yang sengaja kubawa untukmu.</p>
<p>Sejenak singgah, menikmati secangkir teh hangat di sore hari lalu mengangkat gegas langkah kembali menatapi sebongkah <em>Amorphophallus titanium</em> dan setangkai <em>Coelogyne pandurata</em>. Perantau. Pastinya kamu akan semakin menumpukku dalam lembaran lusuh hidup ketika mendapati aku telah beribu kilometer darimu. Tanpa pernah mengucap sepatah katapun.</p>
<p>Kamu seharusnya tahu. Apa kamu masih belum menyadarinya?</p>
<p>Kamu yang akan menggeleng pelan sehingga aku bisa bercerita panjang lebar padamu. Memperbaiki perbedaan cara pandang kita tentang teman dan sahabat. Sebuah kisah yang membuatku lebih suka untuk meninggalkanmu tanpa seucap kalimat perpisahan.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221; tanyamu.</p>
<p>Taukah kamu, tiga tahun yang lalu aku menggenggam selembar karcis kereta api untukmu yang digeret sebuah loko CC201-14R semata. Memang bukan kelas mewah, ini sekadar lembar kertas usang yang mungkin jika kuberikan padamu dan kamu buang nantinya; tak kan ada seorangpun yang akan memungutnya. Sebuah lotere yang aku pun tak tau akan membawa sebuah kisah indah ataupun bualan lalu. Aku simpan baik-baik tiket yang kuperoleh dengan meluangkan waktuku berdesak-desakan serentak puluhan pasang tangan yang ingin menukarkan uang lusuhnya dengan janji manis mereka pada keluarga. Di sini kamu akan mendapati orang-orang penuh kasih dan hasrat yang mengorbankan lapang, tenaga dan materinya untuk membahagiakan tubuh-tubuh mungil yang menunggu di sisi yang berbeda. Jeritan-jeritan hati yang bergelut dalam kesunyian kota mengingini kembali.</p>
<p>Satu tiket, selaksa asa dan makna.</p>
<p>Ini memang hanyalah sebuah akses untuk naik ke sepur kasta sudra yang dengan besi gandanya akan membawa kita jauh ke ujung nusa. Tempat yang kuharap akan memberikan cerita di malam pergantian tahun ketiga kita. Aku ingin kita membagi malam dengan cara berbeda. Bukan dengan menikmati kerlip kembang api di tengah kota bersama puluhan atau ribuan mata. Bukan dengan cara yang sama bertahun sebelumnya. Aku ingin membawamu ke tempat dimana kerlip bintang yang menemani akhir taun kita. Dengan cara yang tidak biasa.</p>
<p>Saat aku menaiki rangkaian kereta yang akan membawaku ke batas kota di +114, masih kuharapkan selintas bayangmu hadir menyapa dalam kabut, pekat embun yang mengaburkan pagi. Mengangan bahwa kamu menatapku acuh kemudian kita bersama menaiki lorong panjang tua dengan bingkai jendela yang berkejaran di tiap sisinya. Membawa cair suasana dalam hangat dan senyum lebar. Aku telah menawarkan padamu, sementara kamu masih saja enggan untuk mengiyakannya. Ketika mencoba keluar dari sebuah rutinitas dan nyamannya tidak semudah membalikkan tangan dan kamu segera menyerah. Pluit bunyi dan kereta mengerang. Aku tersenyum, entah untuk siapa.</p>
<p>Itu hakmu untuk memilih.</p>
<p>Aku sedang menatap ke luar jendela ketika seorang penjaja menawarkan barang dagangannya. Sesaat selepas penghabisan peron rendah +63 karya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Johan_Louwrens_Ghijsels">Frans Johan Louwrens Ghijsels</a>. Manusia-manusia hebat di baliknya, kataku. Nampak segelintir meskipun jamak menjadi potret besar di negeri ini. Rapuh, terpinggirkan namun bertanggung jawab. Tidak menuntut lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Menyatu dalam peluh dan kesah, kardus bekas, kumpulan receh, daun-daun kering yang berjalan pada aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan betapa hidup ternyata begitu rapuh, miskin, lemah dan tidak pernah bersyukur. Bersentuhan dengan mereka menjadi ironi, cara untuk belajar hidup yang pahit dan menusuk nurani. Benturan keras yang akan memberikan goresan pada hati paling dalam. Mendewasakan.</p>
<p>Bahwa pekerjaan itu bukan sekadar menjadi dokter, insinyur ataupun pegawai berseragam coklat yang sering diucapkan bocah lima tahun. Mereka yang berjuang di antara celah sempit yang disebut kesempatan untuk menghidupi. Penjaja asongan, tukang sayur, penyapu jalan, pengemis, pengamen, copet juga pekerjaan. Menjadi antagonis dengan merendahkan harga diri untuk sekadar membeli sesuap nasi untuk beberapa mulut yang menengadah pasrah di sesuatu yang mungkin tak pantas disebut rumah. Kamu tak akan mendapati kisah seperti ini saat berkurung selimut dingin kereta karena di sana kamu hanya akan mendapati beberapa orang bergumam implisit tentang rumah di Pondok Indah, mobil mewah ataupun perjalanan megah.</p>
<p>Kamu begitu bahagia dengan hidup dan orang terdekatmu tanpa pernah menyangka jika di luar sana banyak orang yang begitu membenci hidup karena jalan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Jiwa-jiwa yang begitu nelangsa merutuki nasib karena gagal di setiap waktunya. Atau mereka yang beranggapan hidup hanya sekadar omong kosong belaka. Mereka berkumpul riuh di tengah himpitan bau keringat dan besi berkarat menjadi satu dengan manusia-manusia kuat yang kukatakan sebelumnya.</p>
<p>Deskripsi inspiratif, realis dan kadang ironis yang jarang dijumpai dalam laju kereta gunung yang selalu kamu tumpangi, atau pada burung besi yang membelah luas angkasa.</p>
<p>Dalam desakan dan himpitan kotak besi tua itu, dalam pribadi membumi yang ditemui, dalam perjalanan lambat yang dibuat, dalam peristiwa hari yang dialami semua menuntun untuk menjadi semakin bersyukur. Rel kereta ini nanti akan bermonolog tentang dongeng ribuan manusia dengan gegap langkah kakinya.</p>
<p>&#8220;Sepertinya menyenangkan, aku juga ingin mendengar cerita salah satu manusia kuat. Ceritakan padaku,&#8221; pintamu.<br />
&#8220;Suatu saat kamu akan tau,&#8221; aku menolak.</p>
<p>Aku bukan ingin kamu sekadar mendengar, menikmatinya juga. Pilihan dan konsekuensi ketika kamu menolak dan aku menerima. Kini sebaliknya.</p>
<p>Ketika kereta itu langsir mengisi muatannya di salah satu metropolis timur laut, +5, kubuka menu pesan dalam telepon genggamku. Mendapati nama-nama yang mengajak untuk menikmati malam pergantian tahun bersama. Seperti biasanya &#8211; dan lalu lalang pikiran di simpang tendas, merujuk atau melantas. Kelebat bayang simpang siur di bordes.</p>
<p>Waktumu untuk bersama sahabatmu dan waktuku dengan sendiri dalam gempitaku. Sudah cukuplah basa basi, lanturan liar masa remaja yang menjanjikan setiap momen akan dilewati bersama. Aku bukan manusia suci dengan baju putih dan lingkaran tasbih. Mungkin nanti aku pun akan bertemu wajah-wajah asing bersahabat, siapa tau? Mereka yang saat ini hanyalah orang-orang asing akan menjadi temanku kemudian mengendap menggantikanmu, sahabat? Ah tapi tenang saja, namamu tak akan tandas, selalu ada dalam coretan romansa. Kusimpan dekat dengan tidur, mimpi dan anganku. Dan kita akan selalu berhubungan asal kamu tidak mengganti kartu kecil dalam telepon genggammu.</p>
<p>Kadang kita terlalu takut untuk mulai. Memulai sesuatu yang sebelumnya kita tidak tahu. Aku pikir kamu begitu. Kenapa? Karena dengan entengnya kamu berkata tidak pada sebuah rencana yang kita buat sebelumnya. Alasanmu kudengar, tidak bisa kuterima: tanpa pemakluman. Hanya karena dia dan mereka kamu berjalan memutar balik sementara aku sudah merangkak pelan. Kembalilah dan aku akan melawan arah. Setidaknya kulupakan dirimu untuk kejap bahkan mungkin lebih dari sejenak.</p>
<p>+4 arakan awan gelap mulai membaur dengan jingga senja yang memudar di kaki langit. Karnaval gegana dalam balutan senyap renjana. Basah bulir air bening menapaki bumi. Hamparan hijau sawah dan rumput ilalang di tepiannya menari tersapu angin lembabnya. Licin aspal hitam, luap sungai berkelok, bias lampu kota, beku bara hati. Selalu saja ada rasa yang tertinggal dalam gerimisnya. Sejenak kupejamkan mata, menciumi bau basah tanah dan rindu yang makin merekah.</p>
<p>Lanskap deretan Pegunungan Hyang tempat kita dulu berbagi rasa terpampang jelas di luar jendela kaca kotak besi usang. Sudah terlalu banyak fiksi indah dari tapak kaki-kaki kecil yang menjejakinya, citra yang menakjubkan tentang tiap sudut sabananya, lukisan mengagumkan pada puncaknya sedang aku teringat bagaimana mulai terlihat betapa jalan kita berbeda. Klise ketika semakin mengenal dunia dan mendapati ada beberapa bagian yang tidak mungkin disatukan. Waktu telah lelah untuk menjaga semua tetap selaras sejiwa seirama.</p>
<p>Ya, seperti Steadman dengan Wave Goodbye-nya:<br />
<em>I turn left. You turn right. Only one way road. On this stretch of life.</em></p>
<p>Senja telah merangkak naik mengulum mentari beberapa masa lalu, bintang hanya menjadi sebuah noktah putih renik dalam kanvas hitam pekat sementara aku telah duduk menikmati hembusan angin semilir pantai selatan membawa bau laut tengara semakin dekatku +7.</p>
<p>Masih beberapa jam lagi untuk menggapai tujuan &#8211; saujana, hampar pasir putih dengan batas debur ombak dan rapat hutan lebat &#8211; yang tadinya kuharap menjadi tujuanmu jua. Perhentian-perhentian sejenak sebelum akhir yang akan memberikan tempat untuk berbagi senyum dan tawa melepas penat dan lelah.</p>
<p>Aku selalu menikmati perjalanan buta atau senja bersamamu sahabatku. Meskipun kini kamu tengah melewatkan petang bersama beberapa yang kamu temui waktu lalu. Ada dua pilihan dalam hidup: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller">Petualangan yang menantang atau sebuah kekosongan.</a></p>
<p>&#8220;Kenapa tidak datang ke acara tahun baru kita? Di sini ramai, banyak kembang api, warna warni segala penjuru dan tentu saja canda,&#8221; tanyamu tiga tahun lalu lewat sebuah pesan singkat di menjelang pergantian post meredian menjadi ante meredian. Masih kusimpan secarik pesan itu dalam memori.<br />
&#8220;Kita sedang menatap cakrawala dengan bulan merah yang sama namun berada pada tebing berseberangan terpisah jurang yang dalam,&#8221; jawabku.</p>
<p>Apakah kamu bisa memandangku dengan cara yang berbeda setelah apa yang kuceritakan padamu?</p>
<p>Mungkin saat manusia menciptakan batasan dengan angka-angka dan kemudian merayakan perubahannya; kamu tengah menikmati kembang api yang sama, yang selalu kita nikmati dulu. Atau mungkin aku mendapatimu memegang tiket kereta apimu. Atau mungkin..? Sedangkan aku bersama tualang di semenanjung blambangan dalam pasir putih ombak bergulung, membuih menikmati bintang yang bertaburan di langit gelap.</p>
<p>Berjuta kemungkinan saat kita berbeda jalan kan?</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu memutuskan menapaki jalan yang panjang melelahkan itu?&#8221; tanyamu.<br />
&#8220;Karena aku bisa belajar, ketika lemah dan letih banyak bagian dari hati yang tidak bisa ditutupi oleh sebentuk topeng yang kita kenakan,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kenapa sendiri?&#8221; tanyamu lagi.<br />
&#8220;Karena saat mengatakan iya, tidak perlu kamu dia atau mereka untuk mulai melangkah. Karena kita datang sendiri dan akan kembali sendiri juga meskipun beberapa hal dalam hidup tidak dapat dilakukan seorang diri.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2012/02/kontemplasi-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just Happy</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2012/02/just-happy/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2012/02/just-happy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 14:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu waktu dimana seorang perempuan harus melepaskan sauhnya, menambat biduk yang sedang dilayari. Menepi dari luasnya samudra yang telah memberikan begitu banyak angin, ombak dan fatamorgana yang senantiasa singgah melenakan pandangan. Sudah saatnya bagi perempuan untuk menyurutkan sampan. Waktu untuk sang perempuan, menaiki perahu yang telah dipilih di ujung senja dermaga. Bertolak dari semenanjung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu waktu dimana seorang perempuan harus melepaskan sauhnya, menambat biduk yang sedang dilayari. Menepi dari luasnya samudra yang telah memberikan begitu banyak angin, ombak dan fatamorgana yang senantiasa singgah melenakan pandangan. Sudah saatnya bagi perempuan untuk menyurutkan sampan.</p>
<p>Waktu untuk sang perempuan, menaiki perahu yang telah dipilih di ujung senja dermaga. Bertolak dari semenanjung ini mengarungi warna gelombang dunia : berdua, bersama tentunya dengan seseorang yang dipilih sang perempuan untuk menjaga kemudi perahu yang dilayari cinta. Belajar untuk mengayuh berdua melintasi samudra luas yang akan menyimpan beribu buih dan guruh yang mencekam saat prahara datang serta berjuta harmoni dan kebahagiaan sebagai balasan atas kegigihan. Menyelaraskan layar dan kemudi dengan satu jangkar yang dipunya.</p>
<p><span id="more-222"></span>Ya, ada banyak malaikat yang akan mengiringi di geladak memberikan ketentraman dan kebahagiaan akan tetapi bersiaplah karena di buritan ada angin yang bisa menjadi badai dan riak yang bisa menjadi ombak. Karena di dalam laut tak dapat diduga. Hanya harus saling percaya dalam setiap waktunya.</p>
<p>Teruslah berlayar, mengarungi luasnya dunai tanpa perlu memikirkan kapan akan sandar di labuh samudra. Karena perahu kalian akan terus berlaut.. </p>
<p># untuk semua teman yang mulai belajar mengayuh berdua <img src='http://blog.superwid.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2012/02/just-happy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keping 6</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/10/keping-6/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/10/keping-6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 11:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Apa istimewanya hari ini?&#8221; &#8220;Tidak ada, kecuali hujan yang membasahi pagi. Mengisi sumur-sumur yang telah lama tak terairi. Atau karena hari ini anak sekolah melaksanakan upacara memperingati peristiwa tigapuluh september dinihari? Ah barangkali istimewa karena buruh-buruh sepertiku mendapat gaji.&#8221; Aku tidak pernah berpikir bahwa hari pertama di bulan ke sepuluh merupakan hari yang istimewa. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Apa istimewanya hari ini?&#8221;<br />
&#8220;Tidak ada, kecuali hujan yang membasahi pagi. Mengisi sumur-sumur yang telah lama tak terairi. Atau karena hari ini anak sekolah melaksanakan upacara memperingati peristiwa tigapuluh september dinihari? Ah barangkali istimewa karena buruh-buruh sepertiku mendapat  gaji.&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku tidak pernah berpikir bahwa hari pertama di bulan ke sepuluh merupakan hari yang istimewa. Tidak ada yang kunantikan tentang waktu ini. Dulu, dua tahun lalu dan sebelumnya, aku menikmati ketika kotak masuk menjadi penuh oleh pesan-pesan singkat dari setiap kontak yang ada di telepon genggamku. Ketika jabatan tangan dan pelukan hangat yang menyapa ketika bertemu kawan dan sahabat. Barangkali jika aku memiliki akun jejaring sosial aku akan senang membaca berpuluh atau beratus ucapan penuh cita dan cinta. Tapi itu bukanlah hari yang istimewa. Karena sebagian dari mereka tidak melihat tanggal satu bulan sepuluh di kalender, mereka hanya mendengar bahwa seseorang merayakan peristiwa mengulang tahun pada hari itu.</p>
<p><span id="more-208"></span>Menyenangkan. Memang. Menjadi sosok yang paling dicari dan dinanti. Walaupun tidak ada kue tart-kecuali satu kali semasa sekolah menengah, tidak ada badut yang bermain sulap, tidak ada balon yang menghias berwarna-warni. Menyenangkan, tapi bukan sesuatu yang istimewa.</p>
<p>Karena aku lebih suka menikmati hari itu dengan memnata ulang masa yang sudah, sedang dan akan terlewati. Menciptakan gambaran tentang senyum, canda dan tawa yang terekam setahun lewat. Mencoba memaknai betapa hidup ini memberikan begitu banyak pelajaran yang seharusnya bisa mendewasakan. Sendiri.</p>
<p>Karena aku tidak memilikimu, bongkahan inspirasi yang tak pernah habis menjadi keindahan-keindahan dalam tiap detikku. Seseorang yang bisa menyentuh hatiku, tetap tinggal dan menetap di sudutnya.</p>
<p>Itu dua tahun lalu, dan semua berubah satu tahun belakangan. Saat kamu membuat satu di sepuluhku di duaribusepuluh menjadi istimewa dengan seloyang black forest, seikat bunga mawar putih kesukaanmu dan skenario persekongkolan yang sempat membuatku ingin meninggalkan kota segera. Jemari yang saling terjalin sepanjang hari. Pelukan hangat yang memberikan kenyamanan yang tak pernah ada habisnya. Ah dan tentu saja senyum manis lengkungan bulan di sebuah ruangan di seputaran pusat kota di antara sahabat-sahabat terbaik.</p>
<p>Begitu pula hari ini, ketika aku mendapatmu menemani dini hariku dengan wajah manismu &#8211; yang membuatmu begadang semalaman, tentunya sekarang ada lingkar hitam yang tercetak di sekeliling mata sipitmu ; sepotong tiramisu lengkap dengan lengkung bulan yang kamu kirim lewat kode-kode digital yang meniadakan batasan ruang di antara kita dan suara merdumu yang melantunkan <em>Yusuf</em> dan <em>Selamat Ulang Tahun</em>. Tentu saja aku ingin mencicipi tiramisu itu berdua bersamamu dan menyentuh bibir lembut yang membentuk senyum lengkung bulan di sela-sela pipi halusmu. Ketika aku mendapati pesan singkat dari ibu dan kakakku. Ketika aku diberi bingkisan banyak doa dari keluarga dan sepenggal lagu <em>&#8220;Aku Bukan Bang Toyib&#8221;</em> dari adik mungil. Aku merasakan hari ini semakin istimewa saja. Dan beberapa kata dari teman-teman kota lama.</p>
<p>Sebenarnya bukan detail-detail yang membuat hari ini begitu istimewa meskipun itu sangat berharga. Karena semua yang kunikmati bersamamu merupakan sesuatu yang istimewa. Sangat istimewa.</p>
<p>Iya hari ini istimewa. Maka aku tetap ingin menikmati hari ini dengan membaca ulang masa yang sudah berlalu, menjalani masa yang sedang dijalani dan membuat rencana indah nan cantik untuk masa yang akan segera terlewati. Membuat dokumentasi lengkap akan kejadian-kejadian &#8211; entah bahagia atau duka &#8211; yang membekas di hati, memberikan pengalaman-pengalaman yang tak telupakan satu tahun lalu. Tapi berdua : denganmu, agar menjadi semakin indah dan bahagia.</p>
<p>Itu yang aku minta darimu.</p>
<p>Aku memang menjadi semakin tua &#8211; menikmati detik-detik yang masih tersisa dan mendapati hadiah untukku tiap harinya. Tetes embun, hangat matahari, indah senja kala, bahagia, tangis, kehilangan, pertemuan, perpisahan dan lengkung senyum bulan.</p>
<p>Banyak doa untukku dari orang-orang tercinta, pun aku ingin mengucap beberapa patah kata.</p>
<p><em>&#8220;Semoga selalu bahagia dalam cita dan cinta.&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/10/keping-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bargaining Position</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/06/bargaining-position/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/06/bargaining-position/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 02:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun keseringan bergaul dengan mesin-mesin sejenis komputer, telepon dan benda sekeluarganya yang tidak punya hati, toh saya ini tetaplah manusia biasa. Setidaknya butuh pengakuan dan perhatian juga. Kan teknisi juga manusia, punya rasa punya hati. Jadi jangan disamakan dengan pisau belati apalagi dipaksa sampai kerja rodi. Kami juga punya emosi. Tapi kenyataannya memang beberapa buruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun keseringan bergaul dengan mesin-mesin sejenis komputer, telepon dan benda sekeluarganya yang tidak punya hati, toh saya ini tetaplah manusia biasa. Setidaknya butuh pengakuan dan perhatian juga. Kan teknisi juga manusia, punya rasa punya hati. Jadi jangan disamakan dengan pisau belati apalagi dipaksa sampai kerja rodi. Kami juga punya emosi.</p>
<p>Tapi kenyataannya memang beberapa buruh lain menganggap buruh teknisi selayaknya pisau belati. Suka minta teknisi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semau hati. Hal-hal yang dikerjakan kadang tidak sesuai dengan gambaran yang dijanjikan semasa pendidikan. Kata Pak Bos Besar Teknisi, kami ini direkrut bukan untuk sekadar menjalankan rutinitas yang ada, tetapi untuk membuat kreasi dan inovasi. Kenyataannya? Di lapangan saya lebih sering melakukan pekerjaan di luar perkiraan. Mana sempat berkreasi dan berinovasi. Mau istirahat saja sulit. Kata Pak Bos Teknisi di lapangan sini ya saya disuruh sabar saja melakukan pekerjaan yang tidak bermutu dan kasar. Katanya lagi, banyak ilmu yang bakal didapatkan di lapangan, yang penting sabar. Saya nurut saja apa kata orang tua. Entah itu benar ataupun sekadar membesarkan hati saja.</p>
<p><span id="more-203"></span>Sesabar-sabarnya orang pasti ada batasnya. Saya sudah biasa disuruh-suruh ini itu dan karena itu pekerjaan yang memang bagian saya, sedapat mungkin saya berusaha menjalani dengan sepenuh hati dan berdedikasi tinggi. Selama yang menyuruh masih sopan, melihat keadaan dan beban pekerjaan. Tahu diri lah, jangan sampai kelewatan dan berlebihan.</p>
<p>Sekali waktu masak iya jam 11 malam waktunya orang istirahat ada yang minta dinyalakan konsole game, malah minta disettingkan tampilannya di layar besar. Atau misal saya tidak boleh pulang kantor gara-gara disuruh standby mematikan proyektor yang notabene cuma pencet tombol on/off saja. Sampai diminta memindahkan mesin potokopian yang besarnya naudzubilah. Sori dori mori, selama tidak ada hubungannya dengan produksi lapangan di sini: nehi!</p>
<p>Syahdan dulu sewaktu masih magang dan belum menjadi pegawai tetap di kantor ini, saya sudah diserahi beberapa tanggung jawab. Mulai dari tukang jaga rental gratis konsole game, tukang beres-beres kabel, sampai tukang setting karaoke. Saya patut berbangga karena tidak semua buruh punya hak untuk mengakses fasilitas itu. Cuma beberapa teknisi saja, dan saya salah satu diantaranya.</p>
<p>Konsekuensi logis dari hak akses yang terbatas itu pasti ada. Tiap rabu dan sabtu malam musti standby jaga buat acara rutin buruh di lapangan sini. Karena memang sudah tugas mingguan, tidak boleh keberatan. Tapi kalau sudah di luar tugas rutin mingguan bolehlah saya sungkan.</p>
<p>Menjelang masa berakhirnya magang, ada beberapa orang baru yang magang di kantor. Sesama peserta magang, kami ditempatkan di mess yang sama. Peserta magang baru berjumlah sembilan orang, lima pria dan empat wanita. Yang pria, saya sudah lupa namanya. Hehehe.. Kan tidak penting. Sedang yang wanita, kata Dadan Galau, ada cantik, ada yang semok, ada yang manis, ada yang imut. Ah, saya tidak peduli. Pasti cantik, semok, manis dan imutan neng saya satu-satunya. Mesti jaga hati, jangan dikotori. Ini godaan mahadahsyat..</p>
<p>Tidak semua, tapi beberapa peserta magang itu kadang tidak sopan. Saya belum pernah merasakan ketidaksopanan mereka, namun dari beberapa pengalaman teman magang seangkatan, mereka memang sedikit keterlaluan. Yah, saya tidak ambil pusing. Selama mereka tidak menunjukkan sikap mereka yang tidak berkenan, saya santai-santai saja.</p>
<p>Di akhir masa magang, saya disibukkan dengan pengerjaan laporan. Bingung mengurus ini itu. Saya, Marto dan Nurlela sedang ngobrol di depan aula mess, bingung dimana dan kapan mau mencetak laporan kami. Jadwal pengumpulan laporan sudah di depan mata. Kalau terlambat mengumpulkan bisa terancam tidak jadi diangkat jadi buruh tetap.</p>
<p>&#8220;To, jadi kapan mau cetak laporan?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Siang ini saja, Saya mau ke kantor bareng Nurlela. Mau nitip?&#8221; tanya Marto.<br />
&#8220;Punya saya belum jadi To, besok saja bagaimana?&#8221; saya memohon.<br />
&#8220;Ah tidak mau, biar cepat beres,&#8221; kata Nurlela.</p>
<p>Tiba-tiba dari balik pintu aula, seorang peserta magang baru keluar.</p>
<p>&#8220;Lela, pasangin karaoke,&#8221; kata si pria magang baru agak kasar memaksa. Saya tidak suka.<br />
&#8220;Saya tidak bisa. Ini minta tolong teknisinya saja,&#8221; kata Nurlela sambil menunjuk saya yang masih takjub dengan perilaku si mas-mas tadi.</p>
<p>Saya sudah sungguh tidak suka dengan orang ini. Tidak sopan sekali.</p>
<p>&#8220;Bisa pasangin karaoke? Kami mau nyanyi,&#8221; kata si pria.<br />
&#8220;Bisa, tapi males,&#8221; saya jawab sambil ngeloyor pergi. Tidak peduli. Nurlela dan Marto cekikikan. Entah si pria magang.</p>
<p>Saya emosi. Minta tolong kok tidak sopan. Saya balik ke kamar, ambil posisi membelakangi pintu, tiduran di depan komputer sembari mengerjakan laporan. Sementara rekan sekamar tapi beda ranjang, Dadan Galau, duduk manis menghadap pintu, sama-sama menyelesaikan laporan. Sebelum balik ke kamar, dari jendela aula saya sempat melihat peserta magang baru ini sedang mengutak-atik peralatan karaoke. Entah siapa yang mengajari mereka.</p>
<p>Sebenarnya saya agak takut juga membiarkan mereka mengutak atik peralatan karaoke. Bagaimanapun juga itu inventaris teknisi, barang mahal. Uang bulanan saya setahun pun kayaknya tidak bakalan sanggup mengganti. Kalau sampai kenapa-napa ya kami para teknisi yang dikenai sanksi. Apalagi posisinya sekarang saya yang sering standby. Tapi biar sajalah, saya sudah terlanjur emosi tingkat tinggi.</p>
<p>Pintu kamar diketok, tok tok tok. Dadan Galau membukakan pintu, Dari layar komputer saya melihat bayangan tiga perempuan peserta magang yang baru di depan pintu. Saya tidak peduli, pura-pura tidak tau.</p>
<p>&#8220;Bisa minta tolong pasangin karaoke nggak?&#8221; tanya si semok.</p>
<p>Dadan Galau rupa-rupanya tidak mampu menolak permintaan si semok. Apalagi ditambah senyuman si cantik dan kerlingan mata si imut, luluh lantah dan hancurlah imannya. Saya masih tidak peduli, sok sibuk pura-pura tidak tau. Saya biarkan saja Dadan Galau beraksi. Toh sudah saya privat dia buat jadi teknisi meskipun sebenarnya dia berprofesi sebagai tukang inspeksi. Dadan Galau dan para permaisurinya berlalu, menutup pintu.</p>
<p>Setengah jam kemudian Dadan Galau kembali dari aula.</p>
<p>&#8220;Tolong dong, saya tidak bisa menyalakan karaoke. Nggak enak ini,&#8221; Dadan Galau minta tolong.<br />
&#8220;Yaelah Lau, tadi kenapa kamu mau? Saya kan sudah kasih kode buat diam saja,&#8221; kata saya.<br />
&#8220;Mana saya tau, kamu tidak bilang. Lagipula mana sanggup saya menahan godaan tiada tara ini,&#8221; balas Dadan Galau.<br />
&#8220;Ya sudah ya sudah,&#8221; saya mengakhiri pembicaraan.</p>
<p>Kalau bukan Dadan Galau yang minta tolong, saya tidak bakalan mau. Apalagi demi kesenangan peserta magang baru itu. Saya masih emosi, tidak ridho teman saya diperlakukan kasar. Sungguh kasian Dadan Galau, tiada mampu menahan bujuk rayu para perempuan peserta magang baru. Memang dasar taktik mereka jitu.</p>
<p>Saya masuk ke aula mess bareng Dadan Galau, pria-pria peserta magang baru sedang bermain bilyar. Sementara perempuannya masih mengutak-atik peralatan karaoke. Ya ampun, kasian itu mbak-mbak kalau sampai kesetrum.</p>
<p>&#8220;Ini lelakinya yang tidak tau diri atau mereka sengaja menyuruh para perempuan untuk membujuk rayu kami?&#8221; saya bertanya dalam hati. Wah Dadan Galau kalah strategi.</p>
<p>Tanpa pikir panjang saya segera menyalakan peralatan karaoke. Utak atik dikit bersama Dadan Galau sementara para perempuan mengerubungi kami. Setelah ketemu solusi permasalahannya, saya bisik-bisik ke Dadan Galau untuk memencet salah satu tombol di amplifier. Biar dia jadi pahlawan. Hehe..</p>
<p>&#8220;Silakan coba dites,&#8221; saya meminta si cantik mencoba microphone dan peralatan karaokeoya.</p>
<p>Di tangan teknisi, syukurlah semua bisa diatasi. Paling tidak Dadan Galau tidak kehilangan muka di depan para peserta magang dan mereka juga tidak menyuruh seenak hati lagi. Begitu semua selesai, saya dan Dadan Galau segera kembali ke kamar. Menyelesaikan laporan yang mesti dikumpul esok harinya. Tentunya dengan tetap tenang dan kalem. Sok <em>cool </em>gitu, jaga <em>image</em>.</p>
<p>&#8220;Terima kasih ya,&#8221; kata si cantik dan si semok sembari mengantar sampai pintu aula. Si manis dan si imut tidak lupa mengucapkan terima kasih pula lengkap dengan senyuman manis mereka. Sementara para lelaki tersenyum mengangguk ramah.</p>
<p>Sampai di kamar saya tertawa, kemudian Dadan Galau curhat berbusa-busa pada saya.</p>
<p>&#8220;Wah, sebelumnya mereka tidak pernah seperti ini loh,&#8221; kata Dadan Galau.<br />
&#8220;Kenapa Lau?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Sebelumnya kalau mereka minta pasang karaoke, mana pernah mereka bilang terima kasih. Senyum saja tidak. Biasanya cuma pada duduk manis, pegang microphone, tunggu semua beres, terus pada nyanyi. Mana inget sama saya. Saya salut sama kamu bisa bikin mereka seperti itu,&#8221; kata Dadan Galau ketawa ketiwi dapat senyum dari si cantik, si semok, si manis, si imut plus bonus senyuman centil lima lelaki.</p>
<p>Hehe.. Dadan Galau mesti diajarkan teori tarik ulur, bagaimana caranya mendapatkan <em>bargaining position</em> yang baik dan benar. Atau mungkin <a href="http://septoadhi.wordpress.com">Sang Master</a> mau memberikan tips dan trik buat teman saya ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/06/bargaining-position/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keping 5</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/04/keping-5/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/04/keping-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 08:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Kita bertemu terakhir sehari selepas Natal tahun lalu. Itu hampir empat purnama. Setelah menghabiskan donat Dunkin&#8217;s dan segelas kopi di kios kecil terminal dua. Pada deru mesin pesawat dan riuh ramai orang yang lalu lalang mengejar impian. Banyak yang telah aku lewatkan bukan? Entah sial atau kurang beruntung ketika aku mendapati harus jauh meninggalkanmu. Banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita bertemu terakhir sehari selepas Natal tahun lalu. Itu hampir empat purnama. Setelah menghabiskan donat Dunkin&#8217;s dan segelas kopi di kios kecil terminal dua. Pada deru mesin pesawat dan riuh ramai orang yang lalu lalang mengejar impian. Banyak yang telah aku lewatkan bukan? Entah sial atau kurang beruntung ketika aku mendapati harus jauh meninggalkanmu. Banyak yang harus aku syukuri, itu yang kusimpulkan dari nasehatmu. Tidak ada di dunia ini yang membuat kita bersedih, Hanya tentang perasaan yang kita ciptakan. Ah aku beruntung memilikimu yang selalu mengingatkanku pada segelas teh manis, semangkuk sup buah cinta dan ruang tamu.</p>
<p><span id="more-193"></span>Pagi ini aku terbangun di atas tempat tidur dengan beberapa jarum menusuk di kepala dan panas yang mendera di ujung tenggorokan. Udara memang tidak sedang bersahabat akhir-akhir ini. Atau kurasa aku terlalu memaksakan diri? Kuharap ini tidak akan menjadi virus yang menyerang dengan membabi buta. Namun tetap kuusahakan senyum menghias wajahku. Sedikit, tapi bisa kamu rasakan ujung bibirku tersimpul membentuk seutas lengkungan kan? Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku selalu ingin menjumpaimu &#8211; seorang yang aku sayangi, perempuan yang menjadi semangat tiap hariku. Mendengar celoteh malas bangun pagimu.</p>
<p>Karena semua akan kembali lagi pada hari-hari melelahkan. Menyeret langkahku, tertatih dan kadang ingin menyerah. Tapi kamu tidak sependapat denganku. Kamu menginginkanku untuk menghadapinya. Dengan senyummu tentu saja, tidak ada yang berat dalam hidupku. Namun kadang bibir lembutmu juga butuh istirahat kan. Maka aku pun tidak akan memaksamu untuk terus-terusan tersenyum saat kamu tidak menginginkannya. Bukannya aku sudah bosan pada senyummu, tapi aku pikir memang sesekali kamu perlu egois padaku. Tidak melulu memanjakan.</p>
<p>Aku sebenarnya sudah mengirimkan sebuah pesan pendek untukmu, tadi pagi.  Tapi sampai sekarang pesan itu belum ada balasan. Barangkali sibuk atau masih terlelap? Mungkin; kamu yang mengajarkanku untuk selalu memberikan nilai positif dalam hidupku. Padahal aku cuma sekadar menyapa. Berterima kasih karena telah memberikan senyum manismu semalam. Aku tidak mengundangmu hadir dalam mimpiku, tapi kamu memberikan kejutan yang begitu indah alam bawah sadarku. <em>Hatur nuhun nya neng geulis.</em></p>
<p>Adalah menyenangkan, seperti yang selalu aku bayangkan, saat-saat membaca pesan pendek darimu. Setidaknya hariku tidak akan berubah menjadi semakin kompleks, selalu saja ada semangat dalam tiap pesan pendekmu. Ya, meskipun kamu tidak pernah mengatakannya tapi aku merasakan besarnya perhatianmu terselip dalam tiap kata-katamu. Entah itu rasa sayang yang begitu dalam atau cinta yang enggan memudar atau keduanya sekaligus, meringankan langkahku.</p>
<p>Semakin aku tidak sabar menunggu hari ini berlalu &#8211; ketika mendapati pagi cepat beranjak siang kemudian siang lekas menata kelam dan mengirim senja pada gelap &#8211; begitu pula esok, hari-hari berikutnya hingga sembilanbelashari ke depan. Sembilanbelashari paling lama yang kurasakan hingga kini aku duduk terdiam dalam balutan jaket biru tua tebal di depan layar yang berpendar ditemani alunan gitar akustik <em>L&#8217;Arc~en~Ciel</em> memainkan <em>Honey</em> (hey, inilah ringtone spesial untukmu). Meringkuk kedinginan. Bahwa kini seonggok tubuh terperangkap di sini sementara sebongkah hati tertinggal sejak tahun lalu dalam rajutan cintamu. Ah, andai saja bisa kupinjam sedikit hangat tubuhmu.</p>
<p>Sembilanbelashari; yang separuhnya kurasakan berat karena semakin tak kuasa kutahan rindu sementara separuh sisanya kurasakan begitu bahagia karena semakin dekat aku akan saat pertemuan denganmu. Ironi dan karunia pada saat yang bersama.</p>
<p>Mengumpulkan beribu-ribu kesepian yang tidak akan bisa kumasukkan ke dalam tas-tas kusutku. Sepi yang menghasilkan rindu yang makin membuncah. Sejenak akan kutinggalkan remahan rindu itu di sini saja, kutinggalkan dalam keheningan diam dan dinginnya malam. Aku tidak akan menitipkan sepi dan sedihku padamu. Kuberaikan itu di sini, di tempat persembunyian bintang. Nanti aku ajak kamu ke sini, melihat bintang-bintang itu sembunyi dari hiruk pikuk dan temaram kota.</p>
<p>Sebagai buah tangan, akan kubawa berjuta-juta cinta dan sayang dalam kehangatan kebersamaan dan cerahnya pagi saat aku menjumpai kilasan bayang yang semakin nyata saat aku melompat bahagia dan setengah berlari menghambur ke arahmu. Melepaskan kerinduan yang hanya bisa diungkapkan dengan pelukan dan kecupan. Atau mungkin kamu yang berjalan cepat menyeruak ke arahku &#8211; karena aku membayangkanmu memakai <em>high heels</em>. Jelas aku tidak akan mengijinkanmu berlari memakai sepatu hak tinggimu.</p>
<p>Aku membayangkan betapa hangatnya pelukmu yang selalu meredakan setiap kegelisahanku. Saat tanganku melingkar di pinggulmu sedang tanganmu mendekap erat punggungku. Merasakan nafasmu yang memburu di dada dan mencium rambutmu yang wangi. Tidak akan lama lagi. Sembilanbelashari.</p>
<p>Nanti, ijinkankanlah aku mengecup keningmu. Bukan hanya di dalam angan yang selama ini kulakukan tiap malam redup berhiaskan bintang-bintang dan ketika pagi saat matahari mulai berdendang. Lebih dari seratus hariku terlewati tanpa kecupan hangat bibirmu, tanpa wangi lembut pelukan tubuhmu, tanpa genggaman erat dari tanganmu.</p>
<p>Inginku kembali seperti akhir tahun yang berlalu. Saat kulihat kau tersenyum sesekali sembari lepas tawamu menghiasi pertemuan kita. Rasanya ingin selalu bersamamu, menghitung tiap detik waktu yang berlalu. Menghabiskan jam-jam untuk mengobrol, bercerita dan berbagi tanpa pernah merasa bosan. Membuatku ingin memiliki semua waktu agar aku bisa bersamamu lebih lama. Menggoreskannya dalam lembaran kejadian dan peristiwa yang bisa kita ceritakan pada dunia. Pada orang-orang yang senantiasa memandang rendah pada indahnya kisah kita. Mendongengkannya pada anak-anak kita kelak.</p>
<p>Aku mulai bosan bercumbu dengan bayang-bayangmu. Seperti halnya kamu yang senantiasa mengatakan kerinduan yang semakin membuatku terpapar diam. Tapi sejenak, sembilanbelashari bantulah aku untuk menyambut pagi yang selama ini hanya membuaiku dalam sepi. Tanpa ada sejumput senyummu yang menyapa di ambang pintu. Lesung pipimu yang muncul ketika kamu tersenyum. Kombinasi anggun yang selalu mengajakku untuk kembali, memandangi garis tipis senyum bulan yang menghiasi binar wajahmu dan sebuah lekukan kecil di sudut bibirmu. Mungkin kamu tidak pernah menyadari betapa pesona senyummu mampu membuat seorang lelaki mencintai dengan sepenuh hati. Bahwa senyummu selalu membawa rasa nyaman bagiku. Semakin dalam setiap saatnya.</p>
<p>Kadang aku terlalu <em>hiper-imajinatif</em> membayangkanmu. Kadang aku terlalu <em>hiper-realistik</em> kepadamu. Duh, aku mungkin menjadi salah satu fans beratmu, <em>Miramania</em> atau <em>Miraholic</em>. Mungkin kamu bilang berlebihan meskipun aku katakan itu yang kurasakan.</p>
<p>Aku <em>verbophobia</em>. Merangkaikan kata-kata suatu hal yang sangat rumit bagiku. Ketika harus mengalirkan bergumpal ide dan menuliskannya. Berusaha memberikan arti dan nyawa pada setiap kata, kalimat, paragraf dan cerita. Tapi untuk seorang perempuan yang kucintai ingin menuliskan kata-kata. Saat ini dari suatu titik pada tempat terdalam di hati.</p>
<p>Aku merindukanmu: sangat. Sungguh.</p>
<p>Ijinkanlah aku membelai hitam rambutmu. Ijinkanlah aku menikmati apa yang tersimpan di matamu. Ijinkanlah aku merasakan kedalaman cinta yang selama ini kamu berikan begitu indah. Ijinkan aku merindukanmu..</p>
<p>Berharap kerinduanku ini akan terobati, bukan hanya jadi fantasi semu di atas mimpi. Bukan sekadar gumaman tentang perempuan manis pemilik keindahan senyum dan lesung pipi. Sembilanbelasharilagi.</p>
<p>Esok pagi saat kamu membuka matamu, kamu akan mendapatiku hadir di hadapanmu. Dan saat bulan beranjak berakhir maukah kamu menjemputku dengan senyum terindahmu seperti saat kamu mengantarkanku dalam riuh sebuah bandara di barat kota?</p>
<p>Dan apakah kamu akan mengijinkanku kecup manis keningmu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/04/keping-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koneksi</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/03/koneksi-kampret/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/03/koneksi-kampret/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 10:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengaku dosa. Saya autis. Suka sibuk sendiri kalau sudah disodori dengan komputer beserta koneksi internetnya. Bikin lupa mandi, lupa belajar, lupa gosok gigi, lupa diri tapi tidak akan melupakan kewajiban perut terisi. Urusan perut bisa bikin bacok-bacokan, maka sedapat mungkin dihindari berurusan dengan perut. Syukurlah tidak sampai seperti hikikomori yang bisa sampai lupa anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengaku dosa. Saya autis. Suka sibuk sendiri kalau sudah disodori dengan komputer beserta koneksi internetnya. Bikin lupa mandi, lupa belajar, lupa gosok gigi, lupa diri tapi tidak akan melupakan kewajiban perut terisi. Urusan perut bisa bikin bacok-bacokan, maka sedapat mungkin dihindari berurusan dengan perut. Syukurlah tidak sampai seperti <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hikikomori">hikikomori</a> yang bisa sampai lupa anak istri. Tapi sejujurnya saya suka kalap kalau sudah di depan perangkat. Bahkan sempat pula akibat kecanduan menatap layar monitor, mata kanan saya pernah dioperasi. Sungguh cukup sekali, tak mau terulangi.</p>
<p><span id="more-181"></span>Apa yang saya lakukan di depan komputer itu biar saya dan Tuhan yang tau. Tapi demi Tuhan saya bukan jenis orang yang aktif berinteraksi dengan jejaring-jejaring sosial. Saya kurang suka situs-situs yang bikin ketagihan seperti pesbuk, tuiter, suka bikin lupa sodara dan keluarga. Sumpah mati, itu situs benar-benar mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya cenderung lebih aktif mengikuti kuskus.us &#8211; <em>the smallest indonesian community</em>, meskipun cuma sebagai kuskuser aktif dan lebih seringnya latihan mengetik di yuhuu messenger. Eh tapi kok sama saja ya, sama-sama bikin lupa kanan-kiri. Memang semua yang ada kaitannya sama koneksi membuat orang-orang lupa diri.</p>
<p>Saking kecanduannya sama komputer dan koneksinya, kemaren saya sempat kelabakan begitu menyadari telah melakukan kesalahan fatal. Tanpa sengaja saya menganiaya charger komputer saya. Dasar charger yang memang sudah mulai soak beberapa bulan sebelumnya, begitu terinjak ngambeklah dia. Dari yang sebelumnya masih mau mengisi baterai meskipun mesti dipaksa dan dikasih sesaji, kini mati sama sekali. Memang sudah seharusnya charger diganti dari dulu, tapi karena alasan ekonomi saya sengaja belum beli sampai titik darah penghabisan. Sayang, mahal.</p>
<p>Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah saatnya si charger pensiun dini. Tabungan untuk bayar panjar liburan ke Tahiti pun terpaksa dikorbankan <img src='http://blog.superwid.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Sekarang masalahnya dimana mau beli charger untuk komputer lama punya saya. Kalau di kampung atau di kota besar pasti banyak yang punya stok. Nah di sini? Cari beng-beng saja susah, bensin antri, dimana yang jual perangkat komputer? Saya saja sangsi, kalaupun ada harganya bakal kena inflasi 20%.<br />
<em><br />
(Baru saja saya tahu di sini ternyata ada toko komputer, meskipun harganya mencekik bikin susah nafas dunia akhirat)</em></p>
<p>Jadinya ya separuh jiwa saya pergi. Apa jadinya saya bila charger tidak ada. Analoginya seperti Valentino Rossi yang dijatah motor Ducati tanpa ada bahan bakar di tangki. Mentok-mentoknya Rossi cuma bakal mengelap motornya, cek busi, membersihkan karburator. Apa iya dia mau menuntun motornya keliling lintasan balap? Bisa, tapi mirip orang gila saja. Begitu pula saya. Saya juga tidak bakalan ikut-ikut gila nenteng komputer yang tidak bisa nyala. Sudah berat ditambah tidak bermanfaat. Saya kasih si komputer cuti sambil usaha cari charger pengganti.</p>
<p>Beruntung Dadan Galau dan Koh Lono meminjamkan komputernya bergantian. Mereka kan orang lapangan, jadi jarang kerja kantoran. Komputer sering nganggur. Jelas komputernya tidak akan saya pakai buat bekerja. Spesifikasinya beda. Kalau dipaksa memakai komputer teman buat bekerja, waktu buat adaptasi bakal lama. Belum instalasi software yang dibutuhkan. Pokoknya tidak bakalan ekonomis, efektif dan efisien. Ya ya ya.. Memang kebanyakan alasan. Intinya saya malas. Suasana hati saya tidak akan bagus kalau charger baru belum didapatkan.</p>
<p>Maka saya pakai saja komputer mereka buat mencari abang-abang tukang jual charger di internet. Via kuskus.us pastinya. Lapak segala macam benda. Tapi berhubung kuskus diblok sewaktu jam kerja, jadi mau tidak mau saya merepotkan abang saya di kota besar sana.</p>
<p>&#8220;Permisi nih Abang agan, ane minta tolong cariin charger komputer ane. Nanti duitnya ane transfer kalo ga lewat rekber. Nanti ane kasi ijo-ijo deh bang. Ga pake tipu-tipu, kalo tipu ane bata.&#8221;</p>
<p>Abang saya memang baik hati. Tidak perlu sampai minta memelas merana si abang udah dapat suppliernya. Sudah dibayar, tinggal kirim. Cuma ongkos kirimnya saja yang kelewat rentenir, mahal dan lama pula. Tapi mau bagaimana lagi, demi kelangsungan hidup saya.</p>
<p>Muka saya murung. Harap-harap cemas. Empat hari saya paten nongkrong di situs kurir, cek nomer resi. Kerja harian, dilupakan sejenak. Empat hari saya jadi pengangguran tidak resmi. Luntang lantung sana sini. Hampa, hidup saya hampa tanpa komputer yang punya koneksi.</p>
<p>Empat hari berselang sampailah paket dewa. Charger baru buat mengisi tenaga komputer saya. Sungguh bahagia tiada tara begitu tau colokannya pas di komputer. Ah indahnya dunia. Cerianya hidup ini.</p>
<p>Nah giliran charger tiba, komputer menyala gantian koneksinya yang bermasalah. Memang yang bermasalah cuma di rumah saja, sementar di kantor semuanya masih oke-oke. Cuma masalahnya di kantor kan jatahnya kerja. Saya sibuk kalau di kantor. Tiada sempat berleha-leha menikmati koneksi. Malah kadang cuma sempat menyalakan komputer saja terus terpaksa ditinggal karena banyak keluhan dari pelanggan (bukan pelanggan dalam konteks negatif ya. Tolong yang punya pikiran jorok, disapu dulu. Tobat sana). Belum lagi pekerjaan empat hari yang sempat tertunda. Duh Gusti, kok nampaknya musibah tiada henti mendera. Apa jadinya Valentino Rossi menaiki motor Ducati dengan bahan bakar di tangki tanpa ada sirkuit yang bisa dilintasi. Ujung-ujungnya Rossi cuma memanasi mesin kan. Begitu pula saya, menderita. Sudah hidup di remote area fasilitasnya apa adanya. Bagaimana mau betah kalau begini.</p>
<p>Saya gelisah. Orang gelisah pasti banyak berkeluh kesah. Sering protes sana sini. Memang saya manusia tidak tau diri. Sudah dikasih banyak rejeki kok masih saja sering merasa sakit hati.</p>
<p>Dan beruntunglah, teman kita semua, Ucrit bersedia atau entah terpaksa mau mendengar keluh kesah saya. Puji Tuhan pula layanan GPRS operator hape tumben lagi bersahabat masih mau memfasilitasi yuhuu messenger dari hape dan buntungnya bagi Ucrit yang harus menjadi tempat sampah saya. Namanya teman kan harus begitu. Iya kan?</p>
<p>&#8220;Wah Crit, tobat saya dapat kerja di sini. Repot repot repot,&#8221; keluh saya pada Ucrit.<br />
&#8220;Kenapa memangnya kawan? Kamu ada masalah apa?&#8221; tanya Ucrit.</p>
<p>Oh iya, sudah lama saya tidak menceritakan bagaimana kabar Ucrit sekarang. Ucrit, si mantri kesehatan ini sedang mengambil kuliah masternya di universitas yang sama setelah sebelumnya sempat pertukaran pelajar ke negaranya Mas Van Basten. Sebenarnya saya curiga apa yang dia lakukan di Belanda. Pikiran saya kok melanglang buana ke Paijo dan Kojrat dengan poto nakal mereka berdua sedang pangku-pangkuan mesra di lobi kampus. Jangan-jangan Ucrit main mantri-mantrian.</p>
<p>Astagfirullah.</p>
<p>Di sela-sela kesibukannya mengambil gelar master, praktek mantri dan mengajar anak didiknya; dia masih selalu menyempatkan memberikan waktunya buat saya.</p>
<p>&#8220;Begini Crit, sedang sial saya. Sudah kemaren charger sempat ngadat eh sekarang giliran koneksinya yang mampat. Butuh tukang sedot WC biar koneksinya lancar ini. Tinggal di pelosok, apalagi sih hiburan yang bisa dinikmati? Apa iya saya mesti mendengarkan kicauan burung di pagi hari, ataupun rumput yang menari-nari?&#8221; saya melampiaskan duka saya pada Ucrit.<br />
&#8220;Nah kan malah enak kawan, asri. Alami,&#8221; balas Ucrit.<br />
&#8220;Enak apanya? Bosan sekali. Masak iya mau beli nasi padang saja mesti ke kota. Setengah jam kalau mau ngicip rendang. Pitsa? Mekdi? Kaepsi? Nehi!&#8221; saya melanjutkan.<br />
&#8220;Lah kan malah ngirit. Sehat pula,&#8221; sambung Ucrit.<br />
&#8220;Teman macam apa kamu! Mbok iya solider sedikit, dihibur gitu temanmu ini,&#8221; saya protes.</p>
<p>Saya sudah mau muntap. Kalau ada di hadapan saya, bakalan saya gilas si Ucrit pakai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Grader">moto-grader</a> pinjaman dari bagian produksi. Atau saya pinjam <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Drilling_rig">hoist</a> bagian well service biar dia tau rasa.</p>
<p>&#8220;Sabar lah boi.. Dinikmati kerjaannya. Dulu siapa yang pengen bekerja di situ? Siapa yang dulu berjuang mati-matian buat bisa jadi pegawai situ? Kamu kan? Ya sudah disyukuri apa yang didapat. Jangan kebanyakan protes, itu lihat banyak yang pengen menggantikanmu,&#8221; kata Ucrit.</p>
<p>Memang dari dulu saya berkeinginan bekerja di sini. Entah kenapa, kok seakan-akan jiwa saya berada di sini. Meskipun di perusahaan ini statusnya cuma sebagai pendukung tapi saya cukup senang.</p>
<p>&#8220;Lalu dulu siapa pula yang ingin bekerja di daerah? Siapa yang pengin mencicipi hutan? Siapa juga yang pengen melihat orang utan di alamnya?&#8221;, lanjut Ucrit.<br />
&#8220;Saya&#8230;&#8221; merasa terpojok.<br />
&#8220;Ya sudah, disyukuri saja. Berarti semua keinginanmu tercapai kan. Sudah bekerja di situ, ditempatkan di hutan. Berada di kawasan konservasi orang utan. Kurang baik apa Tuhan sama kamu?&#8221; Ucrit membentak.</p>
<p>Loh kok jadi Ucrit yang marah.</p>
<p>&#8220;Ingat boi, kata-kata adalah doa. Jadi hati-hati kalau bicara. Ngomong yang baik-baik saja. Syukuri apa yang ada, jangan banyak protes, jangan banyak ngeluh. Dasar manusia!&#8221; Ucrit malah muntap.</p>
<p>Sedari dulu saya juga ingin sekali mencicipi rasanya bekerja di pulau terbesar di negri ini. Bosan juga hidup di kampung. Rasa-rasanya sudah sampai berkerak di kampung. Pengen keliling negeri. Selain itu, dulu saya sempat pula bilang ke Mardi.</p>
<p>&#8220;Besok kapan-kapan kalau ada waktu saya pengen lihat penangkaran orang utan. Di tempat kamu ada kan Di?&#8221; tanya saya pada Mardi.<br />
&#8220;Ada, main saja ke rumah,&#8221; kata Mardi.</p>
<p>Bedanya Mardi tidak tinggal di pulau ini, tapi di pulau seberang. Tapi sama-sama di tempat Mardi ada penangkaran orang utan, di sini pun ada juga. Malahan dekat.</p>
<p>&#8220;Iya ya.. Saya kok kurang bersyukur gini. Mesti dirukyah apa ya?&#8221; tanya saya pada Ucrit.<br />
&#8220;Memang, kamu sungguh manusia tidak tau diuntung,&#8221; kata Ucrit.</p>
<p>Kadang-kadang mulutnya Ucrit memang suka seenaknya saja.</p>
<p>&#8220;Tapi Crit, masak iya sekarang ini. Sudah di pelosok, sinyal hape ngap-ngapan masih ditambah koneksi yang tidak tahu diri. Apa jadinya orang IT tanpa komputer yang terkoneksi? Saya kan jadi tidak bisa buka kuskus.us, tidak bisa yuhuu messenger-an pakai komputer. Bukannya saya bosan pakai hape buat internetan, cuma takut jempol saya nanti kapalan,&#8221; saya bertanya sekaligus berkeluh kesah.<br />
&#8220;Itu di statusmu. Kata Om Eric Schmidt : <em>&#8216;Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu dan perhatikan manusia di sekelilingmu&#8217;</em>,&#8221; kata Ucrit.<br />
&#8220;Masalahnya manusia di sekeliling saya pada mainan komputer sama ponsel Crit,&#8221; saya bilang.</p>
<p>Ucrit sign out.</p>
<p>Teman tanpa solusi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/03/koneksi-kampret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Service Desk</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/03/service-desk/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/03/service-desk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 09:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Nampaknya lima setengah tahun masa pendidikan saya berasa kurang berguna ketika saya menyadari jauh di daerah remote seperti ini mesti menghadapi pekerjaan yang jauh dari bayangan sebelumnya. Tadinya saya berpikir bahwa nantinya saya akan duduk manis di depan komputer sambil menikmati secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng, menatap layar monitornya, membuka text editor dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nampaknya lima setengah tahun masa pendidikan saya berasa kurang berguna ketika saya menyadari jauh di daerah remote seperti ini mesti menghadapi pekerjaan yang jauh dari bayangan sebelumnya. Tadinya saya berpikir bahwa nantinya saya akan duduk manis di depan komputer sambil menikmati secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng, menatap layar monitornya, membuka text editor dan memencet tombol-tombol di keyboard, membuat baris-baris kode. Tapi kenyataannya di sini saya lebih berguna menjadi teknisi dibanding tukang buat kode. Yah meskipun sesekali masih menyempatkan diri menulis baris-baris kode namun porsi lebih banyak digunakan untuk melayani user dan tentu saja menulis baris-baris instant messenger &#8211; silaturahmi kan penting <img src='http://blog.superwid.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Di sini saya harus menjadi customer service, help desk, service desk sekaligus teknisi dalam waktu bersamaan yang mesti standby 24 jam 7 hari non stop. Eits, tapi tentu saja, jam tidur tidak bisa diganggu. Jadi waktu standby 24 jam dikurangi waktu tidur yang tidak bisa dipastikan dan waktu-waktu lain yang tidak bisa diganggu gugat. Seperti waktu <em>bobogohan</em>.</p>
<p><span id="more-160"></span>Jadinya di kantor saya lebih sering nongkrong di kursi orang dan di pantry. Dari kursi Pak Bos sampai kursi sopir. Belum beres satu pekerjaan, panggilan lain sudah berdatangan. Semacam orang beken saja saya di kantor. Orang paling dicari.</p>
<p>Parameter teknisi beres pekerjaannya ya saat saya bisa duduk santai di depan komputer sambil main game online. Tanpa ada dering telepon dan user yang mengapel ke bilik teknisi. Pokonya tidak ada yang mencari. Namun kenyataannya tidak pernah ada dalam sejarahnya seorang teknisi bisa duduk santai. Minimal tiap hari pasti ada saja lambaian tangan ataupun telepon dari user. Jadilah saya sering jalan kemana-mana. Dan bawaan saya yang penting, di samping bawa diri tentunya, adalah kertas dan pensil, mirip waiter. Kalau waiter mencatat pesanan dan tinggal menyerahkannya ke koki, saya mencatat panggilan dan mengerjakannya sendiri. Yah kertas itu digunakan untuk mencatat karena saking banyaknya panggilan. Biar tidak lupa.</p>
<p>Semacam almarhum Meggy Z saja yang catat catat sendiri, kerja kerja sendiri.</p>
<p>Dan pantry adalah tempat alternatif untuk bersembunyi di samping kamar mandi. Untuk menghindari komplain user yang tidak terkendali. Wajar kan sesekali istirahat. Sesekali tapi sering. Sering tapi sesekali. Hihi..</p>
<p>Tapi ambil positifnya lah. Paling tidak dengan sering beranjangsana ke berbagai fungsi, nafsu ngemil saya terpenuhi. Tiap fungsi kan biasanya punya stok makanan pribadi. Mau tidak mau, suka tidak suka sebagai seorang tamu saya mesti dilayani dengan baik. Alhasil mulai dari sekaleng minuman bersoda, minuman rasa buah, bakpia, wafer, biskuit kelapa, jajan pasar, semuanya sudah pernah dicicipi.</p>
<p>Kerja di sini, di daerah seperti ini mesti tahan banting. Siap menghadapi ancaman, tantangan, gangguan dan hambatan. Kalau kata si Dadan Galau, rekan sekamar saya yang tidak jelas dari mana asal usulnya, &#8220;setiap orang yang ditempatkan di sini sepertinya sudah siap angkat senjata dan ditugaskan di Libya.&#8221;</p>
<p>Mesti bandel. Plus kuping yang tebal dan muka tembok dalam menghadapi atasan. Mau bagaimana lagi. Kalau tidak begitu bisa-bisa depresi. Semua mesti dibawa hepi. Apalagi kalau mengingat rekam jejak pekerja di sini. Kata salah seorang senior, &#8220;Siap-siap saja, kerja di sini berat. Kalau di perusahaan distribusi itu kerja satu orang bisa dikerjakan hingga empat orang sementara di perusahaan produksi seperti ini beban pekerjaan empat orang harus dikerjakan seorang. Banyak-banyak berdoa saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa mesti banyak berdoa Pak?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Ya biar bisa cepat pindah ke tempat lain,&#8221; kata si senior.</p>
<p>Waduh.. Dan saya mulai menyadari pentingnya punya kuping tebal dan muka tembok beberapa waktu lalu.</p>
<p>Syahdan di tengah kesibukan saya wara wiri sana sini, ada panggilan dari salah seorang user yang bertugas mengawasi kerapian kantor. Di saat saya masih bingung mengapa jaringan di kantor sedang kacau-kacaunya, ada yang iseng bertanya.</p>
<p>&#8220;Mas, masnya teknisi kan. Itu lubang di plafon sepertinya bekas speaker. Kemaren kayaknya masih ada, masih rapi. Jangan suka copot-copot gitu seenaknya. Walaupun sudah mati ya tetep pasang aja. Yang penting enak dilihatnya. Tolong dirapihin ya mas. Kan tidak enak di mata. Pak Bos kan paling detail masalah beginian,&#8221; kata Pak User sambil menunjuk lubang di plafon berdiameter 10 sentimeter.<br />
&#8220;Oh, gitu ya Pak. Baik saya tampung dulu, nanti saya tanya ke teman-teman kalau ada yang merasa nyopot. Tapi setahu saya beberapa hari belakangan tidak ada yang merapikan sound di kantor,&#8221; saya membalas.<br />
&#8220;Bener ya mas, pokoknya saya nggak mau tau. Minggu ini mesti beres,&#8221; lanjut Pak User.<br />
&#8220;Iya Pak, siap.&#8221;</p>
<p>Yang penting user senang dulu. Puas. Motto teknisi kan : &#8220;User puas, kita lemas, pokoknya weekend bebas&#8221;. Masalah kapan dikerjakan itu urusan nanti. Ini hari jumat, sudah sore pula. Kalau mesti selesai hari ini, berarti akhir pekan mesti lembur. Ah nehi lembur hari sabtu. Menyalahi motto teknisi. Wong hari sabtu saatnya libur main ke kota. Kapan lagi saya bisa beli camilan, nyetok cokolatos atau fullo buat seminggu ke depan? Pokoknya, iya dulu saja. Nanti kalau memang terpaksanya komplain user lama dikerjakan, pintar-pintar teknisi mencari sebab serta alasan. Bagi saya itu bukan masalah yang rumit, teman-teman Geng Gabrut sering mengajari saya membual.</p>
<p>Oh iya, saya lupa menjelaskan. Di sini selain bertindak sebagai teknisi komputer, saya juga merintis karir sebagai teknisi sound system. Mungkin nanti kalau akhir pekan saya bisa nyambi cari tambahan modal kawin di kondangan-kondangan. Jadi sound engineer electone.</p>
<p>Begitu ada komplain dari user baru, maka komplain dari user lama pun lupa sudah. Maklum kapasitas penyimpanan memori saya terbatas. Itulah gunanya kertas dan pensil. Dan saya ini juga tidak begitu ahli dalam hal multitasking. Cukup satu pekerjaan dalam satu waktu. Maklum, namanya juga laki-laki. Tidak seahli perempuan dalam hal nyambi pekerjaan.</p>
<p>Ah saya kok minta banyak dimaklumi. Maklum ya pembaca yang budiman, saya ini manusia maklum. Maklum saya manusia. Maklum saya ganteng. Harap dimaklumi ya. Hehe..</p>
<p>Begitu kembali ke basecamp teknisi, saya bertanya pada rekan sesama teknisi.</p>
<p>&#8220;Pak, kemaren ada yang lembur kah? Itu kok plafon ada yang berlubang. Kata Pak User itu dulu bekas speaker,&#8221; saya bertanya. Saya kan masih berstatus magang di sini. Jadi tidak sedemikian rupa paham seluk beluk instalasi jaringan komputer dan jaringan sound system.</p>
<p>&#8220;Wah, nggak ada mas. Nggak ada yang lembur nyopot speaker di kantor. Adanya kemaren lembur memperbaiki telepon dan tivi kabel. Sama pasang toa di masjid,&#8221; kata bapak teknisi.</p>
<p>Nah sudah sahih kan apa yang saya bilang tadi. Empat beban pekerjaan dikerjakan seorang: teknisi komputer, teknisi jaringan, teknisi telepon, teknisi tivi kabel plus tukang panjat bila harus memasang antena ataupun toa masjid. Khusus untuk masalah panjat memanjat, saya tidak menguasai. Saya suka deg deg ser kalo ada di ketinggian.</p>
<p>&#8220;Oh, gitu ya pak. Kalau gitu lubang itu kenapa ya?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Kalau ga salah dulu ada speaker di situ. Tapi udah mati dari lama. Mungkin jatuh ya? Saya juga nggak tau mas. Yang biasa bersih-bersih kantor pasti lebih tau,&#8221; jelas bapak rekan teknisi.</p>
<p>Hmm.. Jadi kalau orang-orang teknisi tidak ada yang merasa mencopot, berarti kemungkinannya kalau tidak dicuri orang berarti jatuh. Tapi untuk kemungkinan dicuri sepertinya tidak mungkin. Mau dijual dimana speaker di daerah pelosok begini? Speaker rusak pula. Masak iya mau diekspor ke kampung saya, dijual di Klithikan? Ongkos kirimnya saja bisa buat beli seloyang pizza. Tidak bakalan balik modal itu makelar speaker rusak.</p>
<p>Jadi kemungkinan kedua yang diambil. Speakernya jatuh dan dibereskan sama cleaning service kantor.</p>
<p>Apakah saya sudah seperti Sherlock Holmes dalam memainkan logika? Atau Detektif Conan?</p>
<p>Mumpung saya masih ingat dan banyak waktu kosong (tepatnya biar keliatan sibuk), saya menelusuri kasus ini. Dan sampailah saya di pantry. Sumpah, tujuan utama saya bukan untuk bikin susu, tapi untuk bertemu dengan Pak Jono, cleaning service kantor.</p>
<p>&#8220;Pak Jono, Bapak pernah menemukan speaker yang jatuh beberapa hari ini tidak?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Speaker apa mas, tidak ada,&#8221; kata Pak Jono.<br />
&#8220;Itu pak, speaker yang di depan. Kan ada lubang itu. Kata Pak User itu bekas speaker. Mari saya tunjukkan,&#8221; kata saya sambil mengajak Pak Jono keluar dari pantry, tempat bersembunyi.<br />
&#8220;Oh itu,&#8221; kata Pak Jono.<br />
&#8220;Loh, nemu pak? Sekarang di mana speakernya?&#8221; saya menyelidik.<br />
&#8220;Tidak tau mas,&#8221; kata Pak Jono.<br />
&#8220;Kok tidak tau pak?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Lah mas, lubang itu sudah lama. Sudah dari pas kantor ini direnovasi,&#8221; terang Pak Jono.<br />
&#8220;Memangnya kapan direnovasi pak?&#8221; saya bertanya.<br />
&#8220;Ya kira-kira empat tahun lalu mas. Jadi ya memang sudah lama lubang seperti itu. Kalau mas nanya apa ada speaker jatuh ya mungkin ada, tapi empat tahun lalu. Masih mau dicari mas?&#8221; tanya Pak Jono balik.</p>
<p>Wah entah saya dikerjai atau karena beban kerja Pak User yang sudah tidak terkendali. Nasib jadi teknisi yang berdedikasi. Apapun keadaannya ya mesti disyukuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/03/service-desk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar</title>
		<link>http://blog.superwid.com/2011/03/kabar/</link>
		<comments>http://blog.superwid.com/2011/03/kabar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 00:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superwid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.superwid.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Rasa-rasanya saya mulai merindukan masa-masa kuliah. Menikmati kampus dan isi di dalamnya. Memang benar kata orang kebanyakan, masa kuliah adalah masa yang menyenangkan. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di kuliah. Aduhai, saya kok jadi sentimentil begini. Ah biar saja. Protes bayar! Satu milyar. Sudah tidak terasa hampir lima bulan saya tidak eksis di kampus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa-rasanya saya mulai merindukan masa-masa kuliah. Menikmati <a href="http://ilmukomputerugm2004.wordpress.com">kampus dan isi di dalamnya</a>. Memang benar kata orang kebanyakan, masa kuliah adalah masa yang menyenangkan. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di kuliah. Aduhai, saya kok jadi sentimentil begini. Ah biar saja. Protes bayar! Satu milyar.</p>
<p>Sudah tidak terasa hampir lima bulan saya tidak eksis di kampus, padahal dulu hidup tanpa kampus bagai mawar tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga. Pasti capcay langganan sudah kangen untuk saya makan. Yah namanya juga putaran jaman, kalau eksis di kampus terus jaman tidak bakalan berputar. Masa iya saya mesti merelakan hidup saya menjadi penjaga setia ruang hima di bawah tangga? Jadi mahasiswa jujur berbakti tanpa henti? Sori sori sahaja yey.. Atau mau jadi pengajar berdedikasi tinggi seperti <a href="http://punyasita.wordpress.com/">Ibu Rosi</a>? Saya belum merasa punya bakat menjadi Oemar Bakri. Kasihan juga kalau tiap hari saya bilang gini ke mahasiswi.</p>
<p><span id="more-148"></span>&#8220;Maaf ya anak-anak, bapak hari ini mau berburu. Jadi kuliah ditiadakan.&#8221;</p>
<p>Lalu besoknya,</p>
<p>&#8220;Kuliah tiga sks dijadikan satu setengah jam saja. Soalnya jadwal kuliah tabrakan sama jadwal aerobik saya.&#8221;</p>
<p>Duh saya tidak mau membuat alumnus hima yang bermarkas di ruang bawah tangga itu semakin tercoret namanya.</p>
<p>Tapi bagaimanapun juga ruang itu telah mengajarkan banyak hal. Dari yang berbau akademis &#8211; sumpah ini jarang sekali, &#8216;sejarang&#8217; Paijo &#8211; hingga kasus-kasus misteri yang  menyerempet dunia mistis &#8211; asuhan Ki Kusumo. Dari derita asmara yang senantiasa dikeluhkan Kojrat, sampai cìnta level buayanya Joko. Dari alimnya Dibyo sampai brutalnya Sukiman. Khusus untuk alimnya Dibyo dan brutalnya Sukiman, silakan dipersepsikan sendiri. Saya tak tega untuk menjelaskan persepsi saya Tidak etis. Biarlah ini tetap menjadi dapur rumah tangga kita bersama.</p>
<p>Eh, tentang mereka, saya jadi teringat tentang the fellowship of <a href="http://superwid.wordpress.com/2008/11/10/geng-gabrut/">gabrut</a>; <a href="http://superwid.wordpress.com/2010/08/02/geng-gabil/">Persaudaraan gabil</a>. Sudah lama pula saya seakan menjadi antipati dan acuh pada rekan-rekan beda nasib dan beda perjuangan itu. Telah lupa saya menanyakan bagaimana kabar masing-masing personelnya. Semacam teman durhaka saja saya, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jauh tiada pernah nanya kabar berita. Entah sudah berapa puluh balada yang tidak saya ikuti kisahnya. Mungkin saya terlalu meratapi keadaan saya yang kini tengah jauh dari sanak keluarga. Padahal kan ada media telekomunikasi, internet dan telepon. Meskipun koneksinya kadang putus dan sinyalnya suka jual mahal, ya paling tidak kan masih ada hubungan ke dunia luar. Saya masih tau kalau Widodo kemaren habis merasakan dahsyatnya gempa nun jauh di sana.</p>
<p>Kesibukan menjadi seorang teknisi pemula yang tengah merintis karir di dunia kerja membuat saya acuh pada beberapa teman di kampung. Di tempat kerja, saya berasa seperti lelaki panggilan yang siaga, siap antar jaga melayani tanda-tangan fans (baca: ucapan terima kasih dari user karena masalahnya telah teratasi). Heboh. Wara-wiri sana sini. Bahkan mungkin saya tidak butuh Gerakan Hidup Sehat karena jarak tempuh saya di kantor tiap hariya sudah di atas rata-rata. Maka dari itu, jangankan untuk eksis di dunia maya mengumbar sapa, kursi saya saja jarang dapat belaian manja. Kalau kursi saya itu dijual sepertinya bakalan balik modal, busanya masih tebal. Malahan saya lebih sering menduduki kursi orang ketimbang kursi yang dialokasikan buat saya seorang. Beruntunglah beberapa hari terakhir saya sempat duduk manis di depan komputer sambil ngemil ciki, ngobrol via messenger dengan mereka yang lama tidak berjumpa. Mengingat posisi saya sekarang yang tengah dinas menggembalakan buaya raksasa di kampung tetangga &#8211; dimana tiki dan jne butuh empat hari untuk menyambangi daerah ini &#8211; salah satu media yang efektif efisien murah meriah untuk menjalin silaturahmi ke teman di pelosok negeri ya messenger itu tadi. Satu per satu saya mulai menelusuri.</p>
<p>Pertama, Dibyo, lelaki berkasta komodo, entah bagaimana nasibnya sekarang. Dibyo suka memutarbalikkan fakta kalau ditanya. Terakhir masih berjuang di tengah kerasnya ibukota sembari menunggu lotere untuk masuk di salah satu perusahaan internasional di kampungnya. Jadinya sering bolak-balik kampungnya-ibukota. Wah, semoga keterima di perusahaan internasionalnya. Siapa tau nanti lapangan perusahaan kita tetanggaan, bisa main barengan.</p>
<p>Paijo masih bingung dengan dunia kerjanya. Maklumlah, kerja di instansi plat merah yang mengurusi masalah rupiah memang lumayan susah. Di satu sisi idealisme musti dijaga, tapi di sisi lain budaya memang sulit untuk dirubah. Hidup di kampung yang katanya menjunjung tinggi adat dan budaya setempat ternyata tidak bisa menjamin untuk mengubah budaya oknum berkerah. Sabar saja ya, Insyaallah nanti antum jadi bos trus jadi suri tauladan yang baik bagi bawahan. Jangan lupa nanti kalau sudah kaya, traktir nasgor Bu Minah seperti biasa.</p>
<p>Sukiman, saya khawatir kalau-kalau nanti gara-gara kebanyakan mikir badannya tinggal segelintir. Lemaknya disedot penjajah dari Perancis, gitu kata Joko. Jadi antek-anteknya Michel Guillemot. Saya bisa membayangkan betapa malangnya keypad handphone yang imut-imut itu musti digerayangi jempol berukuran maksi demi mencari bug aplikasi. Yah mau bagaimana lagi, begitu susahnya kerja di kampung. Nikmati saja dulu, mumpung masih di kampung. Mumpung masih bisa sering-sering ngopi tiap malam minggu. Kalau mau nyoba peruntungan coba saja ke ibukota. Tanya pada Mat Kodir yang sudah berpengalaman di sana.</p>
<p>Saya yakin Joko tidak akan seantusias ini kalau tidak disuruh bapak atau mamaknya daftar beasiswa di kampung orang. Yakin, demi.. Demi.. Demikianlah adanya! Apa kata Ratna Sumirah kalau sampai kakak tingkatnya ini diekspor ke kampung Miyabi atau negerinya Merci. Tapi saya doakan deh kalau situ memang kepincut pengen ketemu Sora Aoi, semoga lancar tesnya. Tapi mbok ya ilmu buayanya diturunkan dulu ke murid-muridnya. Biar ajaran ajian buaya tidak akan sirna.</p>
<p>Terakhir Kojrat.. Bagaimana kabar pejuang cinta kita ini ya? Butuh klarifikasi dan notifikasi -pesbuk efek. Saya kok tiada pernah mendapat kabar beritanya. Apa jangan-jangan impian mendapatkan berlian di lemarinya sudah menjadi nyata. Amin dah amin. Jangan lupa kalau sudah beli google dan microsoft, syukurannya. Tapi jangan di burjo saja.</p>
<p>Duh nampaknya lain kali kalau kita sama-sama di kampung, kita bisa nostalgia. Reuni, sekalian menuntaskan rencana yang tertunda sebelum nanti diminta kesaksiannya.</p>
<p>&#8220;Pasang pengumuman tentang Paijo di papan berita kampus.&#8221;</p>
<p><em>*belajar membaca dan menulis yang mulai terlupa</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.superwid.com/2011/03/kabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

